<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212</id><updated>2011-07-07T19:12:59.436-07:00</updated><title type='text'>Buku Instan</title><subtitle type='html'>CARA GAMPANG BIKIN BUKU</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-983067786400645939</id><published>2009-10-14T06:31:00.001-07:00</published><updated>2009-10-14T06:31:25.150-07:00</updated><title type='text'>Resensi Buku Peta Harta Karun; Menjadi Penulis Kaya Raya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Menjadi kaya raya dengan menulis? Apa bisa? Mungkin itu pertanyaan pertama yang muncul di benak anda begitu membaca judul buku ini. Sah-sah saja anda bertanya demikian. Karena, sejauh ini profesi sebagai penulis belum dianggap sebuah profesi yang menjanjikan. Menulis, bagi sebagian besar orang, belum masuk kategori ‘ladang uang’ yang menggiurkan seperti profesi lainnya, semisal pengacara, dokter, konsultan, dan sejumlah profesi bergengsi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Namun, melalui buku ini sang penulis Toha Nasrudin, S.Ag.—yang dikenal dengan nama pena Abu Al-Ghifari— berhasil mematahkan anggapan bahwa menulis tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya raya. Apa pasal? Dalam uraiannya, Toha Nasrudin mengungkapkan pengalamannya menjadi seorang penulis, yang terbukti bisa kaya raya.&lt;span id="more-202"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Bagi Toha Nasrudin, menulis, apalagi di tengah era informasi sekarang ini, membuka peluang besar bagi seseorang untuk menjadi kaya raya. Karena, setiap orang butuh informasi. Dan, salah satu media informasi yang ‘tahan lama’ adalah dalam bentuk tulisan. Sejumlah media cetak selalu menanti tulisan dari pembaca untuk mengisi pelbagai rubrik. Demikian halnya dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan penerbit di tanah air, senantiasa menunggu kehadiran penulis-penulis baru yang menggugah dan mencerahkan. Di sinilah peluang bagi kita untuk menulis terbentang luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tentu, tulisan yang dimuat di media cetak akan mendapat honor. Begitu juga dengan penulis yang bukunya diterbitkan, ia akan menerima royalti. Dan, peluang menjadi kaya raya pun terbuka lebar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Toha Nasrudin memberikan resep cespleng yang telah terbukti ampuh—seperti yang telah dialami dan dirasakannya sendiri— agar penulis bisa menjadi kaya raya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Berikut beberapa poin yang menurut Toha Nasrudin harus dipenuhi agar seorang penulis bisa menjadi kaya raya: &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;menjadi penulis yang beda bahkan ‘gila’. &lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;menjadi penulis buku best seller murni. &lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;membangun selfpublishing yang prestisius, &lt;em&gt;Keempat,&lt;/em&gt; menularkan ide sukses kepada generasi muda. &lt;em&gt;Kelima, &lt;/em&gt;menabur uang dalam investasi aman. &lt;em&gt;Keenam, &lt;/em&gt;membersihkan kekayaan dari hak orang lain. Dan &lt;em&gt;ketujuh, &lt;/em&gt;membagi keuntungan kepada keluarga besar. (hlm. 80-81)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Ketujuh poin di atas, menurut Toha Nasrudin, jika benar-benar dijalankan dengan sepenuh hati oleh seorang penulis, maka pintu menuju kaya raya, yang menurut istilah Toha Nasrudin pintu ‘harta karun’ pun terbuka lebar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Buku ini layaknya autobiografi penulis yang telah malang melintang di dunia kepenulisan. Segala suka duka, pahit getir menulis telah ia alami. Dari penolakan demi penolakan berbagai media atas tulisannya, sikap acuh penerbit atas proposal buku&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang diajukannya, sampai akhirnya ia sukses menjadi penulis buku best seller dan memiliki penerbitan buku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Dalam buku setebal 196 halaman ini ada dua tema bahasan utama, yakni &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, bagaimana menjadi penulis profesional yang selalu dinanti kehadiran karya-karyanya, baik oleh media cetak maupun penerbit, dan &lt;em&gt;kedua,&lt;/em&gt; bagaimana mendirikan sebuah penerbitan sendiri (&lt;em&gt;selfpublishing)&lt;/em&gt; yang prestisius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Buku ini ditulis dengan tujuan memotivasi siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan jutaan bahkan milyaran rupiah melalui bisnis tulisan. Ini fakta, bukan isapan jempol belaka. Sebab, penulis buku ini telah membuktikannya, dan sukses!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Salah satu kekurangan dari buku ini adalah terdapat salah ketik di sana-sini yang cukup mengganggu. Namun demikian, saya tetap merekomendasikan kepada siapa saja, baik penulis profesional, penulis pemula, atau peminat bisnis buku untuk memiliki buku ‘langka’ ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;Sayang jika kesempatan mendapat penghasilan ratusan juta, bahkan milyaran rupiah anda lewatkan, sehingga peluang menjadi kaya raya pun terbuang sia-sia. Saya yakin, anda tentu tidak ingin hanya sekedar melihat orang lain sukses dan berkantong tebal, sementara anda tidak menjadi apa-apa. So, tunggu apa lagi, mulailah menulis dari sekarang! Dan siap-siap menjadi kaya raya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-983067786400645939?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/983067786400645939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/resensi-buku-peta-harta-karun-menjadi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/983067786400645939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/983067786400645939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/resensi-buku-peta-harta-karun-menjadi.html' title='Resensi Buku Peta Harta Karun; Menjadi Penulis Kaya Raya'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-2015641964375084996</id><published>2009-10-14T06:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T06:29:20.691-07:00</updated><title type='text'>Bocah Cilik di Jalan Buku</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sekarang ini aku sering berpikir, usaha apa ya yang bisa dikerjakan anak 9 tahun? Aku menulis, tapi buku-ku belum banyak. Aku sering diundang isi acara. Tapi kebanyakan untuk orang tidak punya. Jadi aku gratiskan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Nah bagusnya aku usaha. Aku ingin bisa membantu teman-teman kecilku yang miskin. Aku baca di negeri ini sudah ada yang meninggal kelaparan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Usaha apa yang bisa dilakukan anak usia 9 tahun?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sebenarnya aku ada ide juga. Aku mau jualan roti! Aku sudah dapat namanya: Bread Gila! (maksudnya enaknya gila banget gitu loh!). Pokoknya rasa rotinya berbeda deh dari yang sudah ada. Aku bisa jualan di rumah dan di sekolah. Hmmm ini memang usaha kecil. Uangnya mungkin sedikit. Tapi kalau banyak yang beli, siapa tahu nanti aku bisa punya pabrik roti ya? Terus bisa selalu membantu anak tak punya..." (sebuah posting berjudul "Usaha Apa yang Bisa Dilakukan Anak Usia 9 Tahun" di blog Taman Hati Abdurahman Faiz (masfaiz.multiply.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Abdurahman Faiz adalah sebuah anomali. Serupa kalimat yang ditulis TS Elliot dalam satu puisinya, "dia adalah titik diam di dunia yang tidak berhenti bergerak." Titik yang menarik perhatian. Di usia 8 tahun ia sudah menelurkan buku kumpulan puisi berjudul &lt;i&gt;Untuk Bunda dan Dunia&lt;/i&gt; (DAR Mizan, Januari 2004) dengan kata pengantar dari Taufik Ismail. Buku tersebut meraih Anugerah Pena 2005 serta Buku Terpuji Adikarya IKAPI 2005.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Buku keduanya terbit di tahun yang sama dengan buku pertama. &lt;i&gt;Guru Matahari&lt;/i&gt;, juga diterbitkan DAR Mizan, bahkan masuk dalam daftar nomine Khatulistiwa Literary Award 2005. Setelah itu berturut-turut &lt;i&gt;Aku Ini Puisi Cinta&lt;/i&gt;, kumpulan esai &lt;i&gt;Permen-Permen Cinta Untukmu&lt;/i&gt;, dan yang terbaru &lt;i&gt;Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil&lt;/i&gt; yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House, Juli 2007.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Keajaiban yang dimiliki Faiz -kalau menerbitkan buku di usia 8 tahun bisa disebut ajaib-- itu tidak lepas dari kerja keras ayah dan ibunya, pasangan wartawan Tomi Satryatomo dan cerpenis Helvy Tiana Rosa. Helvy, yang dikenal sebagai penulis muda berbakat, sudah mengamati bakat putra sulungnya yang gemar merajut kata-kata menjadi kalimat indah sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Di usia tiga tahun, ia misalnya sudah bisa melontarkan kalimat puitis,"Bunda, aku mencintai Bunda seperti aku mencintai surga." Faiz juga punya rasa ingin tahu yang sangat besar, yang memndorongnya untuk mengetahui hal-hal yang baru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sejak bisa membaca dan menulis di usia 5 tahun, kemampuan Faiz merangkai kata mengalir deras. "Kalimat yang dipilihnya sangat puitis dan mengharukan, tapi tidak cengeng," kata sang ibu, yang dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan komunitas penulis Forum Lingkar Pena.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sadar anaknya lihai meronce kata, Helvy menawari Faiz untuk ikut beragam perlombaan menulis. Faiz memenangi banyak di antaranya. Titik awal menuju dunia menulis adalah ketika siswa SDIF Al Fikri Depok ini meraih Juara I pada Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Saat itu ia baru duduk di kelas I SD. Ketika duduk di kelas II SD, ia juga menjuarai Lomba Cipta Puisi Tingkat SD seluruh Indonesia yang diadakan Pusat Bahasa Depdiknas pada 2004.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Kehebatan Faiz ini terendus juga akhirnya oleh penerbit Mizan. Divisi Anak dan Remaja yang saat itu tengah gencar-gencarnya mencari naskah lokal kemudian meminang puisi-puisi Faiz. Terbitlah kemudian kumpulan puisi &lt;i&gt;Untuk Bunda dan Dunia&lt;/i&gt; pada 2004 di bawah bendera seri &lt;i&gt;Kecil-Kecil Punya Karya&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Menurut Dadan Ramadhan, Editor Anak dan Penanggung Jawab buku Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) DAR Mizan, penerbitan buku karya anak-anak ini diawali renungan bahwa selama ini belum ada buku karya anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sebelum Faiz, seorang bocah lain sebenarnya sudah lebih dulu berkibar di bawah bendera KKPK. Sri Izzati namanya. Novelnya berjudul &lt;i&gt;Kado Buat Ummi&lt;/i&gt; diluncurkan pada 2003 saat ia baru berusia 8 tahun. Gadis kecil kelahiran Bandung, 18 April 1995, ini sudah mulai menulis buku sejak kelas II SD. Izzati bahkan sudah meluncurkan novel keduanya yang berjudul &lt;i&gt;Powerful Girls&lt;/i&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Respon pasar terhadap seri Kecil-Kecil Punya Karya ternyata cukup bagus. Terbukti dari membanjirnya pengunjung cilik dan para orangtua pada setiap peluncuran buku. Faiz dan Izzati kemudian menjadi sosok idola baru di tengah keringnya ladang buku anak lokal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sejak itulah bermunculan penulis-penulis cilik lain yang menelurkan buku mereka. Ada Qurota Aini, bocah yang di usia 7 tahun menerbitkan buku &lt;i&gt;Nasi untuk Kakek&lt;/i&gt;. Buku Aini kemudian meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai penulis termuda. Buku keduanya &lt;i&gt;Asyiknya Outbond&lt;/i&gt; terbit setahun setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Berturut-turut setelah itu, DAR Mizan mengeluarkan sederet buku di bawah bendera seri ini. Putri Salsa, anak penulis best-seller Asma Nadia -yang tidak lain adik kandung Helvy-- ikut digaet DAR Mizan. Bukunya &lt;i&gt;My Candy&lt;/i&gt; berjejer bersama karya sejumlah penulis cilik lainnya. Di dalam daftar itu, ada pula &lt;i&gt;Beautiful Days&lt;/i&gt; karya Bella, 6, putri penulis dan pendiri komunitas budaya Rumah Dunia, Gola Gong. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Menurut Pangestuningsih dari Mizan, buku-buku yang bernaung di bawah bendera KKPK ini terbukti mampu mendongkrak penjualan buku anak. Buku karya Bella, yang terbit tahun silam, berhasil terjual hingga 15.000 kopi. Tidak heran jika CEO Mizan Haidar Bagir berseloroh, jika dulu penulis yang harus berterima kasih dan berutang budi karena naskahnya bersedia diterbitkan, kini penerbitlah yang harus bersyukur karena bisa menerbitkan buku penulis-penulis cilik sukses ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Sukses Mizan menerbitkan karya bocah cilik ini membuat para penerbit lainnya menitikkan air liur. Forum Lingkar Pena, misalnya, kini menerbitkan kumpulan puisi terbaru Faiz, &lt;i&gt;Nadya: Kisah Dari Negeri yang Menggigil&lt;/i&gt;, tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Apa kelebihan para bocah cilik ini sehingga mereka mampu menelurkan buku di usia yang demikian belia? Riris T. Sarumpaet, profesor di bidang sastra anak mengatakan karya Faiz dan teman-teman lainnya sarat dengan kesederhanaan, polos, dan jernih saat memotret persoalan di sekitarnya. Cara memandang persoalan, terutama tentang anak-anak miskin dan menderita, jauh dari klise dan sangat metaforis. Mereka mampu menggambarkan apa yang dirasakan anak seusianya, tanpa harus sok dewasa atau menggurui. Mungkin itu yang menjadi daya tarik bocah-bocah kecil ini untuk membaca buku karya anak seumur mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;Kepiawaian anak-anak dalam bertutur ini pula yang dipuji Hilman Hariwijaya, penulis serial remaja &lt;i&gt;Lupus&lt;/i&gt;, yang meroket pada era 1980-an. "Aku yang dulu bangga sudah nulis sejak SMP, jadi nggak ada apa-apanya dibanding Caca," katanya memuji Putri Salsa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, Times New Roman, Times, serif;font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;oktamandjaya wiguna/reza m/angela    &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-2015641964375084996?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/2015641964375084996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/bocah-cilik-di-jalan-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2015641964375084996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2015641964375084996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/bocah-cilik-di-jalan-buku.html' title='Bocah Cilik di Jalan Buku'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-2195252098375738377</id><published>2009-10-14T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T06:26:49.816-07:00</updated><title type='text'>Suara Merdeka: Writepreneurship, Menjadi Kaya dari Menulis</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;p&gt;&lt;strong&gt;YOGYAKARTA -&lt;/strong&gt; Bisakah kaya dari menjadi penulis? Inilah pertanyaan yang dibedah dalam seminar nasional “Writerpreneurship: Menjadi Penulis Best Seller” yang digelar oleh Sekolah Penulis Yogya (SPY) di Gedung Tiga Serangkai, Condong Catur Yogyakarta, Sabtu lalu (24/10).&lt;span id="more-31"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para pembicara M Fauzil Adhim (penulis buku best seller &lt;em&gt;Kupinang Engkau dengan Hamdalah&lt;/em&gt;), Jonru (pemilik situs &lt;em&gt;penulislepas.com&lt;/em&gt;), dan Siswanto (Penerbit Tiga Serangkai Solo) mampu membuat peserta menjadi terbuka wawasannya akan begitu pentingnya menulis dan dari sisi ekonomi ternyata juga cukup menjanjikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Fauzil Adhim, menulis dapat menjadi profesi yang memberikan standar kesejahteraan lebih. Dengan catatan, harus total dan profesional. Dalam artian, jika seseorang bisa menulis sesuatu yang penting dan bermanfaat serta dikemas dengan bahasa cair, renyah, mudah diterima masyarakat luas maka peluang untuk mendapatkan royalti besar bukanlah hal yang tak mungkin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sudah banyak contoh penulis yang kaya dan sejahtera karena tulisan-tulisannya. Habiburrahman Elshirazy misalnya, dari novel &lt;em&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/em&gt;, mendapatkan royalti lebih dari Rp 1,2 miliar. Emha Ainun Nadjib, buku-bukunya laris manis bak kacang goreng sehingga royaltinya pun cukup lumayan dan banyak penulis lainnya seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, Joni Ariadinata,” paparnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia sendiri yang menulis novel &lt;em&gt;Kupinang Engkau dengan Hamdalah&lt;/em&gt;, sudah cetak ulang ke-26 dengan sekali cetak minimal 10.000 eksemplar. Bayangkan, harga buku Rp 20.000 sedangkan royaltinya 10%, tinggal menghitung saja totalnya. Dengan menulis dia dapat mencukupi kebutuhan hidup dan menabung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Persyaratan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Di depan peserta seminar Fauzil mengatakan, untuk menjadi penulis buku yang berhasil dibutuhkan sejumlah prasyarat antara lain fokus atau setia pada satu bidang kajian karena itu menyangkut &lt;em&gt;personal branding&lt;/em&gt; atau kepakaran dalam satu masalah. Selanjutnya, menulis sesuatu yang penting dalam buku sehingga dibutuhkan dan dijadikan rujukan banyak orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jangan sampai hanya menjadi buku sampah yang tidak memberikan makna apa pun kepada pembaca. Buku yang isinya penting dan kajiannya fokus harus dikemas dalam bahasa yang renyah serta kemasan menjual. Kalau semua persyaratan itu terpenuhi maka tak sulit untuk menjadikan buku kita &lt;em&gt;marketable&lt;/em&gt;,” tandasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siswanto dari Penerbit Tiga Serangkai menambahkan, ada dua sistem yang selama ini dipakai untuk memberi penghargaan kepada para penulisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, dengan sistem royalti, honorarium dibayarkan sesuai jumlah buku yang terjual per tiga atau enam bulan. Berikutnya sistem beli putus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejauh ini pihaknya masih terus mencari naskah-naskah dari penulis luar yang bersifat buku teks, panduan, agama, dan aneka tema lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang mengirim naskah banyak, namun yang isinya benar-benar berkualitas masih sedikit. Karena itu, peluang menjadi penulis masih sangat terbuka. (D19-70)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/harian/0711/26/ked05.htm" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;SuaraMerdeka.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-2195252098375738377?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/2195252098375738377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/suara-merdeka-writepreneurship-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2195252098375738377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2195252098375738377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/suara-merdeka-writepreneurship-menjadi.html' title='Suara Merdeka: Writepreneurship, Menjadi Kaya dari Menulis'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-3077109685128793239</id><published>2009-10-13T17:57:00.002-07:00</published><updated>2009-10-13T17:58:29.498-07:00</updated><title type='text'>Faktor-faktor yang Menggairahkan Menulis (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;2.                Bagian dari Proses Menyembuhkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Inilah pengakuan Hernowo, penulis “Mengikat Makna” dan                “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza”, yang banyak mendapat                tempat di hati pembaca itu. “Menulis bagi saya tidak sekadar                berhubungan dengan tinta dan kertas. Menulis adalah proses ‘menjadi’                dan ‘berkembang’. Lewat menulislah kadang saya mampu                memecahkan beberapa persoalan yang ‘menekan diri saya’.                Simak lagi pernyataannya, “menulis bagi saya, merupakan kegiatan                yang ‘ringan’. Ini lantaran menulis saya persepsikan                sebagai kegiatan yang menyembuhkan.”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Usai membaca ungkapan tersebut, saya segera ingat bahwa, manusia                yang paling gampang ruwed, capek, bosan dan cepat jenuh. Apa lagi                bila melihat hal-hal yang dianggap aneh. Manusia cenderung tidak                mampu menyimpan apa-apa yang dialaminya. Sudah menjadi sifat manusia                ingin segera menumpahkan yang dirasakannya itu.&lt;br /&gt;              Memori saya pun tertuju pada sebuah cerita, yang ditulis oleh KH.                Abdurrahman Arrosi tentang raja bertanduk dan tukang kayu (Rosda                Karya).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Seorang tukang kayu memergoki sang raja. Heran bin heran si tukang                kayu, karena kepala sang raja ternyata bertanduk. Begitu pun dengan                raja yang waktu itu membuka mahkotanya. Ia segera tahu bahwa, aibnya                sudah diketahui seorang rakyatnya. Raja berpesan agar tukang kayu                tidak menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Tukang kayu                berjanji tidak akan pernah cerita kepada siapa pun.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Benar, tukang kayu tidak pernah bercerita.Tetapi ia tidak tahan                lebih lama menyimpan keganjilan kepala raja. Akhirnya ia berteriak                seorang diri di hutan, “raja kita bertanduk”. Dalam                waktu singkat, seluruh penduduk kerajaan tahu, bahwa raja mereka                bertanduk. Ternyata, saat tukang kayu berteriak, “raja kita                bertanduk”, ada burung beo yang mendengarkan. Lalu burung                itu terbang sambil menirukan “raja kita bertanduk”.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Yang ingin saya sampaikan, sudah pasti kita mengalami masalah-masalah                berat, yang bisa disepadankan dengan tukang kayu. Meski wilayah                peristiwanya berbeda, tapi merupakan bagian dari proses menyembuhkan.                Masalah berat menjadi lebih ringan. Sebab, sudah ditumpahkan ke                dalam tulisan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;3. Honor &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Pertama kali saya terima honor tulisan tahun 1993, dari tabloid                Hikmah termuat di rubrik kecil bernama “Mereka Bicara”.                Jumlahnya Rp. 7.500. Senang bukan bikinan. Waktu itu masih sekolah                di kelas III Madrasah Aliyah Negeri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya tidak perlu malu untuk menyebutkan, bahwa honor tulisan itu                menggiurkan. Setidaknya untuk level pemula. Harus kita akui pula,                banyak penulis yang tidak begitu mempersoalkan honor. Kelompok ini                biasa disebut kaum idealis. Asal ide-ide sudah dibaca orang, cukuplah.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya pernah ngobrol dengan mantan seorang Pemimpin Redaksi sebuah                majalah lokal di Bandung, ia mengabarkan, dari hasil nulis resensi                saja adiknya sanggup menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi                negeri di Yogyakarta. Menakjubkan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sepanjang tahun 1997-2002 ada beberapa tulisan saya yang dimuat.                Honornya mulai Rp. 50.000-Rp. 200.000 per tulisan. Jika dibandingkan                dengan honor di luar negeri, pasti honor penulis Indonsia tertinggal                sangat jauh. Sewaktu ceramah di Yayasan “Jendela Seni”                Pak Wilson Nadeak cerita, dengan hanya satu tulisan dimuat, di Eropa,                para penulis bisa membiayai hidup selama sebulan. Selain dibayar                mahal, sebuah tulisan dapat dipublikasikan ± sampai sepuluh                media lewat biro jasa.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya berani memperkirakan, beberapa tahun ke depan honor penulis                Indonsia kian membaik. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak                media massa, yang berarti apresiasi masyarakat terhadap tulisan                makin bagus. Logikanya, nilai jual lebih tinggi lagi. Lahan bagi                penulis melebar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;4. Shadaqah Ilmu &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Budayawan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dalam “Tadarrus                Budaya”-nya kurang-lebih mengatakan begini, seorang faqih                bisa mendekati Allah dengan ibadah legal formalnya. Seorang seniman                bisa mendekati Allah dengan karya seninya dan seorang sastrawan                bisa mendekati Allah dengan karya sastranya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kalau kita panjang-lebar-luas-dalamkan, bisa lebih banyak lagi.                Dan saya ingin mengatakan, seorang penulis bisa menularkan ilmunya                lewat tulisan. Asal yang kita tulis untuk kemaslahatan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Shadaqah ilmu lewat media tulis kenapa tidak? Bukankah menyebarkan                ilmu sangat diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Meski satu ayat,                shadaqah ilmu lewat tulisan sangat strategis dari segi efektivitas                dan tabungan pahala untuk meraih ridha-Nya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Renungngkan! Allah memberikan pahala bagi orang yang memberikan                jalan (petunjuk) kebaikan sebagaimana orang yang diberikan petunjuk                mengerjakan kebaikan. Semakin banyak ilmu yang kita sebar, maka                tambah banyaklah kemanfaatan yang diperoleh pembaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;5.                Sebagai Warisan yang Membanggakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              “Gajah mati meninggalkan gading”. Pepatah usang ini                menyampaikan pesan sosial yang sangat berharga. Gajah saja yang                hewan menyisakan gading yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Apa yang sanggup kita wariskan? Tanah, rumah, uang, mobil, tak ada                salahnya. Tetapi tidak sedikit warisan yang demikian mengakibatkan                permusuhan sesama saudara sekeluarga. Terkadang juga kurang mendidik.               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kondisinya sangat berbeda, jika saja yang kita wariskan adalah ilmu.                Warisan dalam tulisan (buku) punya nilai yang sangat membanggakan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Warisan tersebut dapat membantu anak-cucu dan generasi setelah kita,                untuk mempertahankan sejumlah nilai luhur yang telah kita kerjakan,                sekaligus sebagai bahan guna menggali potensi yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;6.                Menyadari Penuh bahwa Manusia itu Makhluk Penulis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Roesli Lahani Yunus meyakinkan kepada kita dengan sebuah kutipan                dari Emerson, perihal manusia sebagai penulis. “Manusia pada                hakikatnya adalah penulis. Apa yang ia lihat atau alami, ia jadikan                pola. Ia percaya, apa yang dapat dipikir, akan dapat pula ditulis,                lambat atau cepat. Dalam tiap pembicaraan, dalam tiap bencana, dalam                tiap peristiwa, dalam tiap perjalanan, ia dapatkan bahan baru untuk                tulisannya atau karangannya.”&lt;br /&gt;              Sealinea keyakinan di atas, kiranya dapatlah mengusir keragu-raguan                para penulis pemula, yang biasanya bertanya semacam ini, “mampukah                saya menulis?”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Bertolak dari potensi yang dimiliki manusia itu berbeda, baik perasaan,                temuan, kehobian, penyikapan mengenai sesuatu, sekiranya diolah,                maka menjadi tulisan yang beragam. Satu masalah yang muncul, cara                penyelesaiannya dengan beberapa alternatif. Solusi alternatif yang                kita miliki, merupakan bahasan tulisan yang bermutu tinggi karena                memiliki keunikan tersendiri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kata lainnya, menulislah dari apa yang kita rasakan, harapkan dan                renungkan. Bukan dari sesuatu yang berada di luar diri kita. Dari                titik ini pulalah penulis produktif semisal Hernowo dan Abu Al-Ghifari                lancar menulis. Setelah memulai dari diri sendiri, barulah mereka                mencari data-data pelengkap agar tulisannya menjadi lebih bertenaga                sekaligus dipercaya pembaca. Dan pada proses lebih lanjut, seorang                penulis akan berkata, “menulis itu sebenarnya indah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;7.                Setiap Gaya Tulisan Ada Penggemarnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Pembaca budiman, saya mengajak Anda untuk sedikit bermimpi. Tidak                banyak. Andai sejudul tulisan kita sudah selesaikan. Andai sebuah                naskah untuk ukuran buku telah kita rampungkan. Masihkah kita menyisakan                pertanyaan semodel “apakah tulisan bikinan saya laku di pasaran?”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Ibarat makanan, punya pengemarnya masing-masing. Yang satu hobinya                pecel lele, lainnya nasi goreng, sementara di tempat yang berbeda                kita temukan penikmat nasi liwet lengkap dengan sambal dan ikan                asinnya.&lt;br /&gt;              Betapa pun demikian kuat pengaruh penulis yang kita kagumi, mewarnai                gaya tulisan kita, saya setuju dengan Mohamad Fauzil Adhim, penulis                buku bernuasna “pernikahan” bahwa, selekasnya kita menemukan                gaya tulisan sendiri. Insya Allah, gaya tulisan yang kita peragakan                ada juga yang mengambil manfaatnya, alias Suka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Lilis Nihwan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-3077109685128793239?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/3077109685128793239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/faktor-faktor-yang-menggairahkan_13.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/3077109685128793239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/3077109685128793239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/faktor-faktor-yang-menggairahkan_13.html' title='Faktor-faktor yang Menggairahkan Menulis (2)'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-8265112550607172509</id><published>2009-10-13T17:57:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T17:57:41.598-07:00</updated><title type='text'>Faktor-faktor yang Menggairahkan Menulis (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sepotong                sajak, sebaris kata bijak, sepenggal cerita, sedikit keuntungan                rupiah, sealinea biografi, secangkok lagu dangdut, begitu sering                dapat membangkitkan gairah untuk segera beraksi. Dalam menulis dibutuhkan                ketekunan. Para penulis senior biasanya membeberkan banyak keuntungan                yang bisa diraih dari olah tulis dan menjadi penulis atau pengarang                yang produktif.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Gairah menulis perlu dipompa terus. Proses kreatif tidak boleh berhenti.                Karenanya, dibutuhkan kembali kehadiran perangkat-perangkat untuk                penyemangat dalam menulis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sudah lama The Liang Gie memaparkan temuannya bahwa, ada enam nilai                manfaat yang diperoleh para penulis (pengarang) yaitu, nilai kecerdasan,                nilai kependidikan, nilai kejiwaan, nilai kemasyarakatan, nilai                keuangan, dan nilai kefilsafatan.&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pembaca                budiman, kalau mau, kita mampu menambah lebih panjang daftar manfaat                menulis. Apa bisa? Seperti kata sebuah iklan, “bisa”.                Asal giat berlatih, banyak membaca, bekerja lebih keras lagi. Dan                lebih keras lagi.&lt;br /&gt;              Semakin kita dapat meraba keuntungan-keuntungan dalam menulis plus                memahami sejumlah kesulitan, maka insya Allah gairah menulis akan                terjaga, bahkan grafiknya tambah meningkat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Berberapa upaya agar semangat mengolah tulisan makin bergairah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;1.                Membaca Mahakarya Penulis atau Pengarang Dunia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              ”Di belakang tiap kata berdiri suatu dunia, tiap orang yang                menggunakan kata harus menyadari bahwa ia menggoyang dunia”,                demikian tulis Hernowo mengutip pernyataan Heinrich Boll.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya setuju. Betapa memang manusia sangat dipengaruhi oleh kata-kata                yang didapatinya. Entah dengan membaca atau mendengar. Tentu saja                kekuatan bacaan lebih ampuh karena bisa dipelajari berulang-ulang,                walau dalam rentang waktu yang sangat jauh jaraknya, antara saat                kata-kata itu ditulis dengan dibaca.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Perubahan besar sejarah dunia, ternyata banyak digerakkan oleh kekuatan                bacaan. Kita tahu dalam sejarah Islam, hanya dalam waktu 22 tahun                2 bulan 22 hari semenanjung Arabia yang dihuni oleh masyarakat jahiliyyah                berubah total akhlaknya. Masyarakat yang gemar melecehkan kaum wanita,                menjadi penyayang dan pelindungnya. Pedang yang biasanya digunakan                untuk menyelesaikan masalah, diganti dengan solusi musyawarah. Sungguh                pun perubahan terjadi terutama karena keteladanan dari Nabi Muhammad                Saw.. tapi yang ingin saya tekankan adalah perubahan-perubahan besar                itu dimulai dengan perintah “membaca” (Lihat QS. Al-‘Alaq                [95]: 1-5).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Membaca dengan segala macam kandungan dan falsafahnya, telah sanggup                merubah peradaban. Kenyataan sejarah di orde yang berbeda kembali                membuktikan. Perubahan-perubahan dahsyat di pentas dunia dipelopori                oleh bacaan-bacaan atau tulisan-tulisan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Seorang penulis produktif yang juga muballigh, yakni KH. M. Isa                Anshary (Allahu yarham), mengurai betapa hebatnya pengaruh tulisan                (bacaan). Saya tulis ulang pernyataannya dari buku “Mujahid                Dakwah” (Diponegoro, 1995).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              “... Revolusi-revolusi besar di dunia, selalu didahului oleh                jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu                idea dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang. Revolusi                Perancis bergerak di bawah cahaya pikiran dan cetusan pandangan                yang dirintiskan oleh J.J. Rousseu dan Montesquieu. Revolusi Amerika                dibimbing oleh ‘Declaration of Independence’ (Fatwa                Kemerdekaan) yang sampai kini dijadikan pedoman besar oleh bangsa                Amerika. Revolusi Rusia dan perjuangan kaum komunis di seluruh dunia                dipimpin oleh ‘Comunistisch Manifest’, karya Marx dan                Engels. Nazi Jerman bergerak di bawah petunjuk buku Mein Kampf buah                tangan pimpinan mereka Hitler.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Revolusi Tiongkok berpedoman kepada San Min Chu I karangan Sun Yat                Sen. Revolusi Indonsia didahului oleh pemikiran-pemikiran revolusioner                dari Bung Karno, Hatta, Syahrir dan Tan Malaka. Pidato pembelaan                Bung Karno di muka pengadilan kolonial di Bandung ‘Indonesia                menggugat’ brosur revolusioner ‘Mencapai Indonesia Merdeka                (MIM)’, pidato pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Den                Haag yang berjudul ‘Indonesia Vrij’ dan buku kecilnya                ‘Ke arah Indonesia Merdeka (KIM)’, tulisan-tulisan Syahrir                dalam ‘Daulat Rakyat’ tentang taktik dan straegi perjuangan,                buku-buku Tan Malaka yang diselundupkan dari luar negri, semua itu                telah menjadi aspirasi dan inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan                tanah air. Renaissance Alam Islamy, gerakan reformasi dan modernisasi                Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Amir                Syakib Arsalan dan Abdurahman Al-Kawakibi. Pembinaan negara Islam                Pakistan didahului oleh buku-buku Mohammad Iqbal...”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Pembaca budiman, dengan membaca tulisan-tulisaan mahakarya penulis                kelas dunia, kita akan mendapatkan semacam ruh kekuatan untuk melahirkan                tulisan yang mengguncang dunia. Tentu saja ambil yang positifnya.                Pastikan kita mendapatkan hikmah dari proses kreatif mereka. Untuk                menuliskan pendapat dan pikiran saja, mereka banyak mengalami sederetan                penderitaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Lilis Nihwan&lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-8265112550607172509?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/8265112550607172509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/faktor-faktor-yang-menggairahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/8265112550607172509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/8265112550607172509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/faktor-faktor-yang-menggairahkan.html' title='Faktor-faktor yang Menggairahkan Menulis (1)'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-7047270619305736226</id><published>2009-10-13T17:56:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T17:56:53.846-07:00</updated><title type='text'>7 Alasan Kenapa Sebuah Naskah Ditolak?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Siapa                sih yang tidak sedih jika tulisan yang kita kirim ke media tak kunjung                dimuat. Padahal seluruh kemampuan telah kita upayakan seoptimal                mungkin. Biaya telah banyak keluar untuk perangko, kertas, ongkos                angkot dan tidak sedikit waktu yang kita gunakan untuk menulis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Manusiawi kalau sedih dan kecewa, tapi justru karena kita sebagai                manusia mesti secepatnya kembali ke titik kesadaran dan tidak memanjakan                kepusingan lama-lama bertengger di otak kepala. Bila pasrah total                ketika sejumlah tulisan belum juga nongol di majalah, tabloid atau                koran, KO-lah riwayat kita di dunia kepenulisan.&lt;/span&gt;             &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Memang                dalam hal tulis menulis, karang mengarang bisa dihitung dengan beberapa                jari penulis yang brilian dan ‘mujur’. Maksudnya, orang-orang                yang begitu ngirim tulisan langsung dimuat. Sebut saja misalnya                Gola Gong, Ali Muakhir dan si kecil Pipit Musawwa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Rasanya tidak berlebihan saya menyebut mereka itu para penulis yang                diberi anugerah khusus oleh Allah SWT. Kenapa? Paling tidak mereka                sudah menulis dalam katagori usia dini. Selebihnya saya, Anda, dan                pembaca sekalian harus bekerja jauh lebih keras dan berlipat lagi                supaya dimuat. Insya Allah bisa.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kita akan coba mengurai seputar naskah yang ditolak sambil mencari                alternatif untuk menyiasatinya (membijakinya) agar tulisan lebih                bagus dan kembali kita kirim ke media massa.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt; 7 (Tujuh) Alasan Mengapa Naskah Ditolak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Pertama, &lt;/strong&gt;naskah ketinggalan zaman dari segi sisi,                alias tidak aktual. Redaktur sangat berselera pada hal-hal yang                sifatnya baru, bahkan yang bernilai rekayasa. Bukan masalah basi.&lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;              Kedua, &lt;/strong&gt;momenya tidak sesuai atau tepat. Mengirim tulisan                ke media tentang keutamaan Rhamdhan, sedang waktu mengirim pada                bulan Shafar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Ketiga, &lt;/strong&gt;penyajian berbelit-belit. Saharusnya sistematis.                Memiliki pemaparan yang menganut dan mengandung kebertahapan. Tidak                loncat sana, loncat sini.&lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;              Keempat,&lt;/strong&gt; Tidak memakai tata bahasa yang berlaku. Kata lainnya                belum selaras dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Meski bukan                satu-satunya faktor.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Kelima, &lt;/strong&gt;kalah bersaing dengan penulis lain yang                lebih kompeten. Bisa jadi penulis yang sudah punya nama. Walau bukan                jaminan orang tenar setingkat menteri tulisannya layak muat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Keenam,&lt;/strong&gt; jumlah halaman kebanyakan atau malah kurang.                Misal, untuk rubrik “Cerpen” hanya menerima 5-6 halaman.                Tetapi kita mengirim 8-10 atau 2-3 halaman. Jelas bikin bingung.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Ketujuh, &lt;/strong&gt;dualisme judul. Kita membuat tulisan berjudul                “Perang di Afganistan”, pada saat yang sama pantas juga                dijuduli “ Perang di Palestina”. Judul demikian tidak                mencerminkan isi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;             &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Lilis Nihwan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-7047270619305736226?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/7047270619305736226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/7-alasan-kenapa-sebuah-naskah-ditolak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/7047270619305736226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/7047270619305736226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/7-alasan-kenapa-sebuah-naskah-ditolak.html' title='7 Alasan Kenapa Sebuah Naskah Ditolak?'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-667264717610862733</id><published>2009-10-13T17:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:56:05.274-07:00</updated><title type='text'>Menulis Adalah Bakat?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sering                dijumpai pada kalangan para da’i, yang ingin terjun ke dunia                tulis, perasaan sulit untuk memulai menulis. Katanya, mereka telah                beberapa kali mencoba menulis, namun hasilnya tak pernah jadi. Sebagian                yang lain, pernah mencoba dengan segenap kemampuan, dan setelah                beberapa kali gagal, akhirnya jadi juga. Namun ketika dikirimkan                ke media massa, ditunggu-tunggu tidak kunjung nampak di koran. Sampai                kemudian ada kesimpulan, setelah tulisannya dikembalikan, ternyata                tidak dimuat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Alhasil, tidak sedikit diantara penulis pemula yang merasa kesulitan                memasuki dunia tulis. Padahal jika disadari, sebenarnya hampir setiap                orang telah terbiasa menulis. Sejak masa sekolah dasar hingga masa                perkembangan seterusnya. Menulis ketika mencatat dan mengerjakan                pekerjaan rumah, tugas-tugas, serta berkirim surat. Dengan demikian,                pada dasarnya setiap orang, telah memiliki keterampilan menulis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;               Oleh karena itu, semua orang yang bisa menulis telah memiliki potensi                menjadi penulis. Hanya potensi itu memang perlu dikembangkan. Ketika                sangat lancar menulis untuk catatan-catatan, kita juga mahir menulis                untuk diary perjalanan hidup kita, semua itu memang baru kreativitas                dan produktivitas menulis yang sajiannya diperuntukan bagi kalangan                sangat terbatas. Penulisan dari dan catatan, untuk dibaca sendiri.                Pekerjaan rumah dan tugas-tugas untuk dibaca guru atau dosen. Sementara                surat-surat juga dibaca hanya untuk orang yang kita kirim.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Lalu saat kita mencoba menulis untuk media massa, keterampilan menulis                yang dimiliki itu terasa bedanya. Ketika misalnya, kita kirim tulisan                dengan gaya menulis surat, atau gaya mengerjakan tugas, ternyata                tidak langsung dimuat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Karena pengalaman demikian tidak jarang kemudian yang mengeluh,“Betapa                sulitnya menulis”. Kemudian muncul pertanyaan, “Apakah                menulis itu hanya untuk orang-orang yang berbakat?”.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Menjawab permasalahan tersebut, Abdul Hadi WM, menjelaskan bahwa                untuk kemahiran menulis bakat sebenarnya hanya mempengaruhi 5%,                keberuntungan 5%, sedangkan sisanya yang terbesar (90%) tergantung                kepada kesungguhan dan kerja keras. Sehingga tidak mengherankan                jika Wilson Nadeak mengatakan bahwa kemahiran menulis itu hanya                bagi yang membiasakan diri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Hal demikian cukup masuk akal, sebab jika ditanyakan tentang bakat,                sebenarnya setiap orang yang telah bisa menulis pun pada dasarnya                telah memiliki bakat. Hanya tinggal mengembangkan, dari tulisan                yang biasanya hanya untuk dibaca sendiri atau dibaca dosen, kepada                tulisan yang bisa, enak, penting dibaca oleh umum.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dengan demikian, kesungguhan dan kerja keras yang dibutuhkan sebagaimana                kata Wilson tadi, terkonsentrasi kepada, bagaimana kita menyiasati                perubahan gaya menulis untuk konsumsi pribadi atau konsumsi kalangan                terbatas, kepada konsumsi untuk dibaca umum. Hanya itulah sebenarnya                titik berangkat persoalan kita. Tidak terlalu banyak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Aef Kusnawan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-667264717610862733?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/667264717610862733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menulis-adalah-bakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/667264717610862733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/667264717610862733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menulis-adalah-bakat.html' title='Menulis Adalah Bakat?'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-1355744525632523387</id><published>2009-10-13T17:53:00.002-07:00</published><updated>2009-10-13T17:54:54.163-07:00</updated><title type='text'>Penulis Hebat Sekalipun Pernah Naskahnya Ditolak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tidak                ada gagal bagi orang yang ingin berprestasi. Sebagai muslim pantang                untuk berputus asa. Salah-satu karunia terbesar dalam hidup kita                adalah membangun sikap optimis. Bukankah Rasul Saw. mengatakan,                bahwa amal (kreativitas) yang baik adalah yang dilakukan secara                istiqamah, walaupun amal itu sedikit.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Ibarat menaiki tangga, sudah pasti kita tidak langsung sampai ke                puncak. Tidak ada kehebatan apa pun kecuali menjaga kebiasaan baik                dan mengembangkannya. Yakinlah kita sedang merangkak tangga demi                tangga. “Man jadda Wa jadda – siapa-siapa yang sungguh-sungguh                ia akan mendapatkan”, begitu sebuah keterangan dalam kitab                Ta’lumul Muta’allim.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Gunawan                Muhammad, Mahbub Djunaidi (Alm) adalah sosok penulis populer di                negeri ini. Selidiki dan pelajarilah kepedihan mereka sehingga menjadi                penulis handal. Bambang Trim Dirut Pusat Kajian Informasi Buku (Pikbuk),                Bandung mengaku, selama tiga tahun kuliah di Editing Universitas                Padjajaran tak satu pun tulisannya dimuat. Tentu saja sekarang penulis                “Menggagas Buku” itu tulisannya tersebar di banyak media.                Hernowo, General Manager Editorial Penerbit Mizan jujur mengatakan,                sejudul penulisannya baru dimuat sebuah harian bergengsi setelah                ratusan naskahnya ditolak. Roesli Lahani Yunus memperkirakan untuk                penulis pemula rata-rata di atas 40 kali mengirim naskah baru diharapkan                bisa dimuat.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Di posisi ini kita harus menyimak uraian Wilsaon Nadeak. Penulis                kawakan pengasuh rubrik “Karang mengarang” HU Pikiran                Rakyat. Alex Haley naskahnya ditolak sampai 200 kali belum juga                dimuat. Di Francisco seorang penulis menerima 600 surat penolakkan.                John Creasy pengarang Inggris menyimpan 774 naskah yang ditolak.                (Pikiran Rakyat, 27 Juli 2002). Artinya, kegigihan sangat kita perlukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Abu Al-Ghifari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-1355744525632523387?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/1355744525632523387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/penulis-hebat-sekalipun-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/1355744525632523387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/1355744525632523387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/penulis-hebat-sekalipun-pernah.html' title='Penulis Hebat Sekalipun Pernah Naskahnya Ditolak'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-6058001876903260123</id><published>2009-10-13T17:53:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T17:53:56.411-07:00</updated><title type='text'>Gagal Menjadi Penulis Sukses, Kenapa?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Saya                akan coba mengurai sejumlah penyebab kegagalan menjadi penulis.                Dalam bidang apa pun kegagalan adalah jenis makhluk yang bikin tidak                enak bagi yang menjalaninya. Kita perhatikan dan kenali 7 sebab                kegagalan dalam proses olah tulis menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;1.                Belajar Teori Saja&lt;br /&gt;              &lt;/strong&gt;Aa Gym sering mengingatkan, “satu langkah bukti nyata,                lebih baik daripada seribu teori”. Saya setuju dengan apa                yang dikemukakan Aa Gym.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Prestasi apa yang dapat dihasilkan oleh generasi, yang cuma berhenti                sampai tingkat teori saja. Dalam olah tulis menulis, betapa banyak                jebolan perguruan tinggi, ditambah alumni kursus-kursus pelatihan                menulis atau mengarang, tapi tidak pernah mampu menyelesaikan barang                sejudul pun.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Maka tidak heran jika Abu Al-Ghifari sewaktu aktif di Ash-Shidiq                Intelectual Forum, sebuah lembaga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Geneva, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                pelatihan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;jurnalistik                yang dipimpinnya, menerima banyak keluhan dari sarjana S1. Keluhan                mereka yaitu tidak bisa menulis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kata DR. Deddy Mulyana, di negeri semisal Amerika, adalah kenyataan                aneh bila seorang dosen tidak bisa menulis. Dan apalagi bergelar                S2 atau S3. Dengan semangat tinggi, Bambang Trim mengutip sebuah                pernyataan dari pusat pendidikan AS, bahwa “semua ilmuwan                adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku.”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya sepakat dengan Abu Al-Ghifari, kesulitan menulis bagi kaum                intelektual bukan terletak pada teori tulis menulis. Tetapi karena                malas mempraktekkannya. Kesimpulannya, siapa pun yang hanya mempelajari                teorinya saja, tidak akan pernah bisa menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;2.                Ide Sebatas Ide&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Boleh jadi ide sudah berjumpalitan di otak kepala. Mungkin baru                saat ide ditemukan rasanya tiada duanya. Perkiraan ide belum ditulis                oleh penulis lainnya. Terbayanglah di benak kita ide ini paling                mutakhir bernilai jual tinggi.&lt;br /&gt;              Tetapi sayang, ide hanyalah bunga-bunga khayalan. Akhirnya, bunga-bunga                ide lesu dimakan waktu. Dan terkejutlah saat membaca tulisan yang                ide utamanya sama. Rugilah kalau ide sebatas ide.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;3.                Menulis yang Tidak Disukai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Bicara mengenai tingkat kelancaran sekaligus kemandegannya, antara                komunikasi lisan dan tulisan terdapat kesamaan. Jalaluddin Rakhmat                dalam “Retorika Modern” (Rosda Karya, 1992) menjelaskan,                apa pun isi ceramah yang disampaikan ke khalayak akan menjadi menarik                bila materi itu dikuasai.&lt;br /&gt;              Lalu timbul kesimpulan, ceramah yang disampaikan, amat tidak menarik,                jika mengucapkan apa-apa yang tidak dikuasai.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Begitu pula dengan tulis menulis. Nulis apa saja kalau kita menguasai                materinya pasti lancar meski tidak bebas hambatan. Sebaliknya, nulis                apa pun sekiranya materi tidak dikuasai, niscaya menemui kemandegan                atau kebuntuan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jangan cuma karena ingin gagah-gagahan, kita menulis bahasan yang                sebenarnya kita tidak memahami. Contoh: kita hendak menulis tentang                Pemilu (Pemilihan Umum). Sementara pengetahuan mengenai Pemilu tidak                memadai bahkan masih terbilang buta. Maksudnya, jangan memaksakan                diri.&lt;br /&gt;              Setiap penulis memiliki spesialisasi ilmu yang khas. Jangan terjebak                pada arus gemuruh emosi sesaat. Ukurlah kemampuan diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;4.                Cepat Puas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Tidak sedikit penulis pemula yang tulisannya berhasil dimuat media                massa. Tidak cuma lokal, bahkan ada yang menembus media berskala                nasional.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Namun sangat disayangkan, mereka cepat sekali merasa puas dengan                capaian seperti itu. Mereka terlena dengan satu, dua tulisan yang                dimuat dibangga-banggakan di setiap waktu dan diedarkan ke setiap                forum pertemuan. Tentu saja bangga itu boleh, tetapi bila dalam                waktu yang cukup lama kemudian tidak lagi menulis, nanti akan lupa                bagaimana caranya menulis. Akibatnya sulit lagi untuk menulis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Cepat puas dalam konteks ini dapat menimbulkan kemacetan total.                Sayang, padahal sudah terbukti mampu menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;5.                Ingin Cepat Populer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Para penulis pemula utamanya punya kebiasaan buruk, yakni ingin                cepat popular. Terkadang lupa bahwa ketenaran, kepopularan, keterkenalan                memerlukan proses waktu yang panjang dan perjuangan sangat keras.                Tidak cukup dalam waktu singkat sebab profesi menulis bukan pekerjaan                instan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Tidak adil jika kita menuntut diri dengan harapan sosial yang tak                proporsional. Robert B. Downs penulis “Buku-buku yang Merubah                Dunia” (PT. Pembangunan Djakarta, 1959) mengungkap, banyak                para penulis yang menggerakkan sejarah menulis di usia paruh baya                atau tua: 44-54 tahun. Dua di antaranya, Thomas Paine dan Adolf                Hitler (lepas dari kejahatannya). Paine dinilai sebagai pelopor                kemerdekaan Amerika dengan karyanya “Pikiran Sehat (Common                Sense).” Sedangkan Hitler penulis “Perjuanganku (Mein                Kampf)” begitu kuat mempengaruhi gerakan komunis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Hikmah yang kita petik adalah meraih popularitas perlu waktu panjang.                Penulis yang tidak tahan proses, jelas akan gagal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;6.                Macet Terjebak Honor&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Bagi penulis senior, apa lagi yang idealis, kegiatan menulis tidak                lagi (terutama) untuk mencari honor. Buat mereka yang terpenting                ide sudah tersebar. Memasarkan ide ke lebih banyak orang dan kalangan.                Berbeda dengan penulis pemula, yang dicari adalah honor berupa uang.                Kelompok kedua jelas lebih banyak jumlahnya, ketimbang kelompok                pertama.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Di bulan Oktober 1996, dua tulisan saya dimuat sebuah harian lokal.                Senang bukan bikinan. Selang seminggu, setelah pemuatan tulisan                kedua, saya menghubungi bagian yang bertugas mengurusi honor. Waktu                itu saya kecewa berat, karena katanya tidak ada honor untuk penulis                luar. Sifatnya hanya menyumbang naskah. Petugas itu mohon maaf ditambah                basa-basi sedikit. Saya pun segera tahu, dan sangat memaklumi koran                lokal yang memuat tulisanku, sedang berjuang keras memperpanjang                umurnya. Cerita yang sama dialami Toha Nasrudin, nama lahir Abu                Al-Ghifari sewaktu saya berkunjung ke Mujahid Press. Ia menyatakan,                “tulisan saya sudah 20 judul tidak dihonor oleh media yang                sama, tapi bukan uang sebagai tujuan.”&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Pembaca Budiman, sekiranya Abu Al-Ghifari berhenti menulis gara-gara                tidak dihonor, pasti ia tidak seproduktif sekarang yang telah menulis                puluhan buku itu. Jika pembaca mengalami hal demikian, kecewa boleh,                tapi jangan dipelihara. Ambil positifnya saja. Dimuat pun sudah                beruntung.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;7. Membesar-besarkan Kelemahan Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Bicara kelemahan, siapa yang terlepas dari kelemahan. Semua punya.                Jangan perbesar kekurangan. Apalagi kita umbar ke setiap orang.                Bisa-bisa yang mendengarkan jadi pusing dan jengkel.&lt;br /&gt;              Biasanya kelemahan itu berupa: tidak ada waktu, kurang referen,                tidak ada bakat menulis dan bukan keturunan penulis.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Begitu sering pengamat politik muda usia Eep Saefullah Fatah menulis                kolom saat menyetir. Caranya, Eep ngomong soal politik, sedang istrinya                mencatat yang dibicarakannya. Ada bekas menteri yang mengetik di                atas kendaraan. Hernowo mengaku bukan keturunan penulis. Ketiga                orang ini jelas memiliki kelemahan dalam mengolah tulisannya, namun                mereka tetap produktif.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Pembaca budiman, semakin meyakini lemah dan memperbesar kelemahan                dalam menulis, tambah dalamlah diri kita memasuki wilayah kegagalan                menjadi penulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;By                Lilis Nihwan Samuranje&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-6058001876903260123?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/6058001876903260123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/gagal-menjadi-penulis-sukses-kenapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/6058001876903260123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/6058001876903260123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/gagal-menjadi-penulis-sukses-kenapa.html' title='Gagal Menjadi Penulis Sukses, Kenapa?'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-5977259736810354770</id><published>2009-10-13T17:52:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T17:52:59.195-07:00</updated><title type='text'>Membuat Naskah Buku yang Berkualitas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Naskah                buku yang berkualitas adalah dambaan setiap penerbit. Hampir dipastikan                penerbit hanya akan menerbitkan naskah-naskah yang berkualitas.                Naskah yang berkualitas tidak hanya memiliki bobot isi yang baik,                tapi juga bidikan pasar yang marketable. Bobot isi yang baik tidak                terletak pada tema yang diangkat. Tema tidak menentukan apakah sebuah                buku—meminjam istilah Hernowo—“bergizi”                atau tidak. Tema hanya menentukan selera.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Lalu, apa saja yang membuat naskah buku berkualitas ?&lt;br /&gt;              Tentu, di samping materi yang berbobot, paling tidak ada 2 hal yang                patut diperhatikan menyangkut naskah yang berkualitas:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Pertama, &lt;/strong&gt;bahasa buku. Sehebat apapun materi yang                disajikan, tapi penataan bahasanya kacau—tidak memenuhi kaidah-kaidah                reasoning (penalaran)—naskah buku tersebut akan menjadi tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;               menarik. Karenanya, bahasa perlu diolah sedemikian rupa agar ketika                naskah dibaca, terasa enak, mengalir, mudah dicerna, dan mengasyikkan,                serta merangsang nalar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Untuk membuat sebuah bahasa yang mampu merangsang nalar, maka, 1)                susunan kalimat dan gerombolannya harus logis. 2) seluruh kalimatnya                diupayakan memiliki diksi (pilihan kata) yang indah dan menggairahkan.                3) penyajian keseluruhan bahasa memiliki koherensi (keterkaitan)                dan komposisi (ketersusunan) yang selain harmonis juga menyimpulkan.               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; mengemas “daya pikat”. Sebuah                buku, dikatakan berkualitas, selain karena materinya oke, bahasanya                tertata dengan baik, juga karena tampilan bukunya yang memikat.                Untuk naskah buku, tak banyak yang bisa diperbuat oleh penulis untuk                mengemas daya pikat. Pihak penerbit yang banyak berperan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Tapi, membuat judul yang “menggigit”, satu dari banyak                hal yang bisa dilakukan oleh penulis untuk mendongkrak kualitas                naskah buku. Perhatikan buku-buku yang berhasil best seller, judul-judulnya                menggigit bukan? Bahkan acapkali judulnya lebih “menggigit”                ketimbang isi buku itu sendiri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dalam sebuah acara diskusi buku Seks In The Kost di Aula Fakultas                Psikologi Unair Surabaya, Iip Wijayanto pernah diprotes dengan judul                bukunya itu yang teramat provokatif. Isi buku itu dinilai beda jauh                dengan judulnya. Karenanya Iip dituding hanya mengejar keuntungan.               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dari aspek judul, buku-buku Iip memang cukup kontroversial. Di antaranya,                97,05 Persen (hasil penelitian tentang virginitas mahasiswi Jogja),                Seks In The Kost, Seks Kalangan Terpelajar, dan Kampus Fresh Chiken.                Tapi kalau membaca isinya, buku-buku itu lebih kepada analisis seks                menggunakan ilmu tasawuf.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Apa kata Iip? Iip mengaku sengaja memilih judul-judul yang kontroversial                dan komersial. Bagi Iip, judul buku yang “heboh” itu                adalah strategi saja. Karena, menurutnya, kalau judul bukunya mengandung                unsur religius, maka pangsa pembacanya hanya kalangan tertentu.                Judul-judul yang “heboh” merupakan strategi agar pesan                dakwah sampai ke banyak kalangan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Maka, tak heran bila buku-buku Iip dapat menembus angka penjualan                yang lumayan spektakuler. Buku Seks In The Kost-nya Iip misalnya,                terjual 20.000 eksemplar pada dua bulan pertama.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Terlepas dari benar-tidaknya apa yang dilakukan Iip, “kasus”                judul-judul Iip yang kontroversial, memberi pelajaran kepada kita                pentingnya membuat judul yang “menggigit”. ***&lt;/span&gt;                                       &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;by                Badiatul Muchlisin Asti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-5977259736810354770?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/5977259736810354770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/membuat-naskah-buku-yang-berkualitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/5977259736810354770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/5977259736810354770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/membuat-naskah-buku-yang-berkualitas.html' title='Membuat Naskah Buku yang Berkualitas'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-2935359334665642830</id><published>2009-10-13T17:51:00.001-07:00</published><updated>2009-10-13T17:51:45.467-07:00</updated><title type='text'>Menyiasati Peluang Diterbitkan (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;3.                Mengenal Visi dan Missi Media Massa &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              &lt;em&gt;“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.&lt;/em&gt;”                (QS. Fathir: 19).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Setiap surat kabar dan majalah mempunyai visi atau pandangan dan                mempunyai arah kebijaksanaan atau misi tertentu yang berbeda. Warna                tulisan yang diinginkan dari para penulis artikel, tentunya yang                sesuai dengan visi dan misi yang diemban media cetak tersebut. Artinya,                seorang harus fleksibel, mengetahui dengan jelas artikel seperti                apa yang diinginkan suatu media. Majalah atau surat kabar yang mempunyai                misi atau visi kesehatan, menginginkan artikel tentang kesehatan                dan sudah tentu menolak artikel-artikel yang keluar dari visi dan                misinya itu.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Surat kabar yang mempunyai visi atau misi khusus, seperti khusus                kesehatan, ekonomi, olah raga, dan politik dengan sendirinya sudah                menunjukan bahwa visi&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                dan misinya dalam bidang-bidang tersebut sehingga penulis tidak                perlu menebak atau mengira-ngira lagi misi dan visi seperti apa                yang diemban media tersebut.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Mengapa harus ada visi dan misi? Sebuah koran atau majalah didirikan                dengan sebuah idealisme dan cita-cita. Idealisme dan cita-cita koran                atau majalah tentu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.                Konsekuensinya, masing-masing perusahaan surat kabar akan mempunyai                sasaran pembaca sesuai dengan idealisme yang dibangunnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sebagai contoh, ada sebuah koran yang mempunyai sasaran pembacanya                adalah kelompok pengusaha, ekonom, dan merreka yang berkecimpung                di sekitar dunia bisnis, misalnya harian Bisnis Indonesia (di Jakarta),                Harian Neraca (di Jakarta), harian Suara Indonesia (di Surabaya).                Ada pula sebuah koran yang diperuntukan bagi masyarakat secara umum                dan jangkauan pembacanya bersifat nasional, sebagai contoh, Kompas,                Republika, Suara karya, Pelita dan lain-lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sebagian koran yang lain diterbitkan untuk memenuhi segmen pembaca                yang bersifat lokal, atau terbatas satu daerah tertentu, misalnya                harian Jayakarta untuk daerah DKI dan sekitarnya, harian Kedaulatan                Rakyat untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, harian Pikiran Rakyat untuk                wilayah jawa Barat dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Aneka ragam jenis dan sasaran sebuah koran menyebabkan pihak redaktur                di sebuah koran mempunyai policy tersendiri untuk menampilkan tulisan-tulisan                bagi para pembacanya. Maka lahirlah apa yang disebut visi dan misi                pada masing-masing media massa. Namun kebanyakan surat kabar atau                majalah tidak mengkhususkan dalam bidang tertentu sehingga sulit                ditebak atau diperkirakan isinya. Dalam hal ini seorang penulis                dituntut untuk jeli dalam melihat apa yang diemban surat kabar atau                majalah tersebut. Dengan kata lain, seorang penulis harus cermat                melihat, artikel seperti apa yang diinginkan media cetak tersebut.                Biasanya permasalahan ini menjadi kendala bagi penulis pemula.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jika diumpamakan sebuah koran adalah sebuah toko, maka jenis toko                biasanya bermacam-macam. Ada toko besi, toko lain, toko kue dan                sebagainya. Sebagaimana layaknya sebuah toko, pemilik toko biasanya                membutuhkan dagangan untuk dijual kepada pembelinya. Sebuah toko                besi tentu hanya akan menerima dagangan-dagangannya yang berkaitan                dengan barang-barang yang berupa besi dan sejenisnya. Ia tidak akan                menerima dagangannya berupa kain atau kue. Demikian halnya dengan                media massa. Ia hanya akan menerima tulisan-tulisan yang sesuai                dengan visi serta misi media yang diembannya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Memang untuk mengetahui visi dari sebuah media massa bukanlah pekerjaan                yang gampang . Diperlukan pengamatan yang ciukup dan mungkin akan                memakan waktu lama. Akan tetapi dengan mengetahui masing-masing                visi yang ada pada media massa akan sangat membantu seorang penulis                untuk dapat memilih media mana yang sesuai dengan masalah-masalah                yang ditulisnya dan media mana yang kurang sesuai.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Cara sederhana yang mungkin dapat dilakukan untuk mengetahui visi                dan misi koran antara lain, pertama, mencari informasi pada para                penulis yang sudah sering menulis di salah satu media. Kedua, mengamatio                sendiri, misalnya dengan berlangganan satu koran kemudian dipelajari                model-model tulisan yang ada di dalamnya. Ketiga, berdasarkan pengalaman.                Di sini penulis terjun langsuing, dengan cara terus menerus menulis                pada beberapa media yang diinginkan. Jika tulisan tidak dimuat atau                biasanya kemudian dikembalikan, itu pertanda tulisan itu tidak sesuai                dengan keinginan redaktur. Dan jika hal ini dilakukan terus-menerus,                seorang penulis akan menjadi tahu jenis-jenis tulisan mana yang                sesuai dengan koran dan mana yang tidak sesuai. Akan tetapi perlu                diingat, sebuah tulisan yang tidak diomuat belum tentu tidak sesuai                dengan visi sebuah koran, bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh                banyaknya penulis yang menulis pada satu persoalan yang dianggap                sama. Sehingga dengan terpaksa tulisan kita yang dikalahkan. Atau                barangkali ada sebab-sebab lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Diantara sejumlah masalah yang menjadi pertimbangan bagai redaktur                sebuah koran untuk dimuatnya sebuah tulisan, antara lain, tema atau                topik tulisan , gaya bahasa, keaktualan persoalan yang dibahas,                kesesuaian isi atau materi tulisan dengan latar belakang keilmuan                penulis, dan sebagainya. Dengan mengetahui kodel-model tulisan yang                disukai atau menjadi visi berbagai macam koran , berarti memberi                peluang lebih besar untuk dapat dimuatnya tulisan-tulisan yang kita                buat. (Ahmad Bahar: 1996).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dengan mengetahui visi dan misi suatu media, seorang penulis sudah                bisa menghemat tenaga dan mengefisienkan waktu. Karena jika artikel                salah kirim, bukan saja rugi waktu tapi juga rugi tenaga dan uang.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Untuk iu selayaknya sebelum artikel dibuat, seorang penulis harus                pandai memprediksi, kemana artikel tersebut nantinya dikirim. Bahkan                seorang penulis profesional bukan hanya sebatas mengetahui visi                dan misi suatu media, tetapi gaya bahasa dan model judul suatu media                sudah berada dalam pikirannya. Hal ini memang sulit untuk penulis                pemula, namun jika rajin mengamati setiap media cetak dan terbiasa                membuat artikel, lambat laun akan memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;4.                Strategi Pengiriman Tulisan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Tidak jarang tulisan yang secara isi pantas dimuat, namun kemudian                dikembalikan, karena tidak mungkin memuatnya pada waktu yang tepat                berhubung terbatasnya ruang atau berbenturan dengan tulisan lain,                yang dipandang redaksi lebih baik.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Untuk lebih memperbesar kemungkianan pemuatan tulisan kita di media                massa, maka selain kita memperhatikan moment yang tepat, hendaknya                kita juga tidak cuma membuat kemudian menunggu satu tulisan. Buatlah                terus beberapa tulisan yang berbeda-beda, sebarkan ke berbagai media                massa. Untuk pemilihan medianya sendiri, bagi pemula ada baiknya,                yang skupnya lokal terlebih dulu, dengan bonaviditas memilih mulai                yang paling rendah.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Ada beberapa keuntungan penulis pemula mengirimkan tulisannya kemedia                lokal, atau media yang masih berkembang, diantaranya:&lt;br /&gt;              a. Saingan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berat;&lt;br /&gt;              b. Redaksi juga lebih banyak kesempatan untuk membantu mengkoreksi                tulisan kita&lt;br /&gt;              c. Peluang pemuatan akan lebih besar. Sementara dengan dimuatnya                tulisan kita, tentu akan menambah motivasi baru untuk lebih produktif                lagi dan lebih berkualis lagi dalam menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;by                Aef Kusnawan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-2935359334665642830?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/2935359334665642830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2935359334665642830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2935359334665642830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-3.html' title='Menyiasati Peluang Diterbitkan (3)'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-1370609307242698798</id><published>2009-10-13T17:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:51:01.231-07:00</updated><title type='text'>Menyiasati Peluang Diterbitkan (2)</title><content type='html'>&lt;span align="justify"   style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;.                Mengaktualkan Tulisan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;              Mengenai.aktualitas sendiri bisa dipahami dalam dua hal:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; tidak teragenda. Masalah aktual seperti ini yang                berkaitan dengan kejadian yang ada di tengah-tengah masyarakat,                seperti dengan terjadinya kasus bom, kasus narkoba, kekeringan,                wabah penyakit, banjir besar, banyaknya demonstrasi, kenaikan harga                BBM dan sebagainya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; aktual teragenda. Aktualitas ini berkaitan dengan                adanya hari-hari tertentu, seperti hari Raya Idul Fitri, Idul Adha,                Isra Mi’raj atau hari-hari Nasional dan dunia yang monumental.               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Ketiga, menyimak tajuk rencana suatu media. Sebagaimana dimaklum                bahwa tajuk rencana adalah tulisan opini yang isinya mengulas hal-hal                aktual yang dibuat oleh pihak redaksi suatu media.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                Apa yang ditulisnya merupakan ulasan terhadap fenomena yang menarik                perhatian media itu. Oleh sebab itu, jika penulis menghendaki aktualitas                dalam tulisannya, akan ia peroleh dengan memperhatikan apa yang                tengah banyak disoroti oleh media yang akan dikirimi tulisan olehnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jika semua itu diperhatikan, maka ia akan menjadi salah satu daya                tarik bagi pihak redaksi untuk lebih menominasikan pemuatan tulisan                yang memiliki relevasi dengan kondisi dan situasi yang sedang berkembang.                Lebih lanjut tentang akutalitas teragenda dan yang tidak teragenda,                berikut uraian tambahannya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              a . Menyiasati Aktualitas tidak Teragenda&lt;br /&gt;              Setiap saat ada peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat. Ada                yang terkategori kejadian biasa-biasa saja, ada juga yang memerlukan                penelaahan, sehingga layak untuk diangkat menjadi bahan tulisan.                Persoalannya adalah bagaimana seorang penulis bisa mengetahui permasalahan                aktual yang tidak teragenda ini? Ada beberapa langkah untuk itu.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1) Mengamati perkembangan fenomena kehidupan masyarakat secara terus-menerus,                misalnya,, tentang kemiskinan masyarakat daerah pinggiran kota dalam                kaitannya dengan pola migrasi masyarakat yang bersangkutan. Kemudian                ia menyusunnya dalam suatu perencanaan (yang flesibel), baik topik                maupun penulis artikelnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              2) Mengikuti secara cermat perlkembangan symptoms (gejala-gejala)                yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, munculnya berbagai                kegiatan demonstrasi, pemogokan tenaga kerja, serta berbagai langkah                yang dilakukan para da’i kontemporer. Lalu ia menyususnnya                dalam suatu perencanaan (yang flesibel).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              3) Mengikuti secara cermat perkemabnagn trend (kecenderungan) yang                muncul dalam kehidupan masyarakat, misalnya, maraknya kegiatan dakwah                kampus, play station, pmakaian internet, dan lain-lain. Lalu ia                menyususnnya dalam suatu perencanaan yang fleksibel.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              4) Mengikuti secara cermat, munculnya peristiwa-peristiwa monumental.                Misalnya, pengumuman kenaikan harga BBM, kelahiran undang-undang                baru, serta peristiwa lainnya yang menimbulkan berita tinggi. Lalu                ia menyususnnya dalam suatu perencanaan yang fleksibel.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              b. Menyiasati Aktualitas Teragenda&lt;br /&gt;              Ada sejumlah peristiwa aktual yang senantiasa teragenda. Keteragendaannya                terjadi karena ia biasa hadir tiap tahun. Untuk itu sebaiknya penulis                menyadari benar tentang hal ini, dengan melakukan beberapa hal.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1) Menyusun rencana topik artikel untuk peristiwa-periistiwa kalenderium                tahunan, baik hari besar agama, hari peringatan nasional maupun                internasional.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              2) Menyusun rencana topik tulisan untuk moment-moment tersebut.               &lt;br /&gt;              Untuk lebih jelasnya berikut ini, diketengahkan hari-hari yang merupakan                agenda tahunan, khususnya hari-hari besar agama, nasional, dan beberapa                hari internasional. Berikut uraiannya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Tanggal                Moment&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              1 Januari Hari Tahun Baru Masehi&lt;br /&gt;              15 Januari Hari Pertempuran Laut Aru&lt;br /&gt;              22 Pebruari Hari lahir Lord Baden Powell&lt;br /&gt;              9 Maret Hari Pramuka&lt;br /&gt;              10 Maret Hari Film Nasional&lt;br /&gt;              15 Maret Hari Nyepi Hindu&lt;br /&gt;              25 Maret Hari Raya Nyepi&lt;br /&gt;              6 April Hari Nelayan Nasional&lt;br /&gt;              7 Aril Hari Kesehatan Sedunia&lt;br /&gt;              9 April Hari Penerbangan Nasional&lt;br /&gt;              13 April Wafat Isa Al-Masih&lt;br /&gt;              21 April Hari Kartini&lt;br /&gt;              1 Mei Hari Buruh Internasional&lt;br /&gt;              Hari Kembalinya Irian ke RI&lt;br /&gt;              2 Mei Hari Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;              8 Mei Hari PMI se-Dunia&lt;br /&gt;              7 Mei Hari Raya Waisak&lt;br /&gt;              15 Mei Hari Kebangkitan Nasional&lt;br /&gt;              21 Mei Hari Buku Nasional&lt;br /&gt;              24 Mei Kenaikan Isa Al-Masih&lt;br /&gt;              28 Mei Hari Waisak (Budha)&lt;br /&gt;              1 Juni Hari Lahirnya Pancasila&lt;br /&gt;              17 Juni Hari Kanak-kanak Nasional&lt;br /&gt;              21 Juni Hari Krida Pertanian&lt;br /&gt;              1 Juli Hari Bhayangkara&lt;br /&gt;              5 Juli Hari Berdirinya BI&lt;br /&gt;              12 Juli Hari Koperasi&lt;br /&gt;              22 Juli Hari Kejaksaan&lt;br /&gt;              10 Agustus Hari Veteran RI&lt;br /&gt;              14 Agustus Hari Pramuka&lt;br /&gt;              17 Agustus Hari Kemerdekaan RI&lt;br /&gt;              19 Agustus Hari Deplu&lt;br /&gt;              24 Agustus Hari Televisi RI&lt;br /&gt;              11 September Hari Radio&lt;br /&gt;              16 September Hari Sandang&lt;br /&gt;              17 September Hari Perhubungan&lt;br /&gt;              23 September Hari Bahari&lt;br /&gt;              27 September Hari Postel&lt;br /&gt;              28 September Hari Kereta Api&lt;br /&gt;              29 September Hari Sarjana&lt;br /&gt;              1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila&lt;br /&gt;              5 Oktober Hari ABRI&lt;br /&gt;              24 Oktober Hari PBB&lt;br /&gt;              28 Oktober Hari Sumpah Pemuda&lt;br /&gt;              30 Oktober Hri Keuangan&lt;br /&gt;              31 Oktober Hari Tabungan Nasional&lt;br /&gt;              10 Nopember Hari Pahlawan&lt;br /&gt;              12 Nopember Hari Kesehatan Nasional&lt;br /&gt;              20 Nopember Hari Kanak-kanak se Dunia&lt;br /&gt;              10 Desember Hari HAM&lt;br /&gt;              20 Desember Hari Sosial&lt;br /&gt;              22 Desember Hari Ibu&lt;br /&gt;              25 Desember Hari Natal&lt;br /&gt;              1 Hijriyah Hari Tahun Baru Hiriyah&lt;br /&gt;              12 Rabiul Awwal Maulid Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;              27 Rajab Hari Isra Mi’raj&lt;br /&gt;              1 Syawal Hari Idul Fitri&lt;br /&gt;              10 Zulhijah Hari Idul Qurban&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;3.                Mengenal Visi dan Missi Media Massa &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              &lt;em&gt;“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.&lt;/em&gt;”                (QS. Fathir: 19).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Setiap surat kabar dan majalah mempunyai visi atau pandangan dan                mempunyai arah kebijaksanaan atau misi tertentu yang berbeda. Warna                tulisan yang diinginkan dari para penulis artikel, tentunya yang                sesuai dengan visi dan misi yang diemban media cetak tersebut. Artinya,                seorang harus fleksibel, mengetahui dengan jelas artikel seperti                apa yang diinginkan suatu media. Majalah atau surat kabar yang mempunyai                misi atau visi kesehatan, menginginkan artikel tentang kesehatan                dan sudah tentu menolak artikel-artikel yang keluar dari visi dan                misinya itu.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Surat kabar yang mempunyai visi atau misi khusus, seperti khusus                kesehatan, ekonomi, olah raga, dan politik dengan sendirinya sudah                menunjukan bahwa visi dan misinya dalam bidang-bidang tersebut sehingga                penulis tidak perlu menebak atau mengira-ngira lagi misi dan visi                seperti apa yang diemban media tersebut.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Mengapa harus ada visi dan misi? Sebuah koran atau majalah didirikan                dengan sebuah idealisme dan cita-cita. Idealisme dan cita-cita koran                atau majalah tentu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.                Konsekuensinya, masing-masing perusahaan surat kabar akan mempunyai                sasaran pembaca sesuai dengan idealisme yang dibangunnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sebagai contoh, ada sebuah koran yang mempunyai sasaran pembacanya                adalah kelompok pengusaha, ekonom, dan merreka yang berkecimpung                di sekitar dunia bisnis, misalnya harian Bisnis Indonesia (di Jakarta),                Harian Neraca (di Jakarta), harian Suara Indonesia (di Surabaya).                Ada pula sebuah koran yang diperuntukan bagi masyarakat secara umum                dan jangkauan pembacanya bersifat nasional, sebagai contoh, Kompas,                Republika, Suara karya, Pelita dan lain-lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sebagian koran yang lain diterbitkan untuk memenuhi segmen pembaca                yang bersifat lokal, atau terbatas satu daerah tertentu, misalnya                harian Jayakarta untuk daerah DKI dan sekitarnya, harian Kedaulatan                Rakyat untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, harian Pikiran Rakyat untuk                wilayah jawa Barat dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Aneka ragam jenis dan sasaran sebuah koran menyebabkan pihak redaktur                di sebuah koran mempunyai policy tersendiri untuk menampilkan tulisan-tulisan                bagi para pembacanya. Maka lahirlah apa yang disebut visi dan misi                pada masing-masing media massa. Namun kebanyakan surat kabar atau                majalah tidak mengkhususkan dalam bidang tertentu sehingga sulit                ditebak atau diperkirakan isinya. Dalam hal ini seorang penulis                dituntut untuk jeli dalam melihat apa yang diemban surat kabar atau                majalah tersebut. Dengan kata lain, seorang penulis harus cermat                melihat, artikel seperti apa yang diinginkan media cetak tersebut.                Biasanya permasalahan ini menjadi kendala bagi penulis pemula.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jika diumpamakan sebuah koran adalah sebuah toko, maka jenis toko                biasanya bermacam-macam. Ada toko besi, toko lain, toko kue dan                sebagainya. Sebagaimana layaknya sebuah toko, pemilik toko biasanya                membutuhkan dagangan untuk dijual kepada pembelinya. Sebuah toko                besi tentu hanya akan menerima dagangan-dagangannya yang berkaitan                dengan barang-barang yang berupa besi dan sejenisnya. Ia tidak akan                menerima dagangannya berupa kain atau kue. Demikian halnya dengan                media massa. Ia hanya akan menerima tulisan-tulisan yang sesuai                dengan visi serta misi media yang diembannya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Memang untuk mengetahui visi dari sebuah media massa bukanlah pekerjaan                yang gampang . Diperlukan pengamatan yang ciukup dan mungkin akan                memakan waktu lama. Akan tetapi dengan mengetahui masing-masing                visi yang ada pada media massa akan sangat membantu seorang penulis                untuk dapat memilih media mana yang sesuai dengan masalah-masalah                yang ditulisnya dan media mana yang kurang sesuai.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Cara sederhana yang mungkin dapat dilakukan untuk mengetahui visi                dan misi koran antara lain, pertama, mencari informasi pada para                penulis yang sudah sering menulis di salah satu media. Kedua, mengamatio                sendiri, misalnya dengan berlangganan satu koran kemudian dipelajari                model-model tulisan yang ada di dalamnya. Ketiga, berdasarkan pengalaman.                Di sini penulis terjun langsuing, dengan cara terus menerus menulis                pada beberapa media yang diinginkan. Jika tulisan tidak dimuat atau                biasanya kemudian dikembalikan, itu pertanda tulisan itu tidak sesuai                dengan keinginan redaktur. Dan jika hal ini dilakukan terus-menerus,                seorang penulis akan menjadi tahu jenis-jenis tulisan mana yang                sesuai dengan koran dan mana yang tidak sesuai. Akan tetapi perlu                diingat, sebuah tulisan yang tidak diomuat belum tentu tidak sesuai                dengan visi sebuah koran, bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh                banyaknya penulis yang menulis pada satu persoalan yang dianggap                sama. Sehingga dengan terpaksa tulisan kita yang dikalahkan. Atau                barangkali ada sebab-sebab lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Diantara sejumlah masalah yang menjadi pertimbangan bagai redaktur                sebuah koran untuk dimuatnya sebuah tulisan, antara lain, tema atau                topik tulisan , gaya bahasa, keaktualan persoalan yang dibahas,                kesesuaian isi atau materi tulisan dengan latar belakang keilmuan                penulis, dan sebagainya. Dengan mengetahui kodel-model tulisan yang                disukai atau menjadi visi berbagai macam koran , berarti memberi                peluang lebih besar untuk dapat dimuatnya tulisan-tulisan yang kita                buat. (Ahmad Bahar: 1996).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dengan mengetahui visi dan misi suatu media, seorang penulis sudah                bisa menghemat tenaga dan mengefisienkan waktu. Karena jika artikel                salah kirim, bukan saja rugi waktu tapi juga rugi tenaga dan uang.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Untuk iu selayaknya sebelum artikel dibuat, seorang penulis harus                pandai memprediksi, kemana artikel tersebut nantinya dikirim. Bahkan                seorang penulis profesional bukan hanya sebatas mengetahui visi                dan misi suatu media, tetapi gaya bahasa dan model judul suatu media                sudah berada dalam pikirannya. Hal ini memang sulit untuk penulis                pemula, namun jika rajin mengamati setiap media cetak dan terbiasa                membuat artikel, lambat laun akan memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;4.                Strategi Pengiriman Tulisan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Tidak jarang tulisan yang secara isi pantas dimuat, namun kemudian                dikembalikan, karena tidak mungkin memuatnya pada waktu yang tepat                berhubung terbatasnya ruang atau berbenturan dengan tulisan lain,                yang dipandang redaksi lebih baik.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Untuk lebih memperbesar kemungkianan pemuatan tulisan kita di media                massa, maka selain kita memperhatikan moment yang tepat, hendaknya                kita juga tidak cuma membuat kemudian menunggu satu tulisan. Buatlah                terus beberapa tulisan yang berbeda-beda, sebarkan ke berbagai media                massa. Untuk pemilihan medianya sendiri, bagi pemula ada baiknya,                yang skupnya lokal terlebih dulu, dengan bonaviditas memilih mulai                yang paling rendah.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Ada beberapa keuntungan penulis pemula mengirimkan tulisannya kemedia                lokal, atau media yang masih berkembang, diantaranya:&lt;br /&gt;              a. Saingan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berat;&lt;br /&gt;              b. Redaksi juga lebih banyak kesempatan untuk membantu mengkoreksi                tulisan kita&lt;br /&gt;              c. Peluang pemuatan akan lebih besar. Sementara dengan dimuatnya                tulisan kita, tentu akan menambah motivasi baru untuk lebih produktif                lagi dan lebih berkualis lagi dalam menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;by                Aef Kusnawan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-1370609307242698798?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/1370609307242698798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/1370609307242698798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/1370609307242698798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-2.html' title='Menyiasati Peluang Diterbitkan (2)'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-2586473090393524048</id><published>2009-10-13T17:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:49:25.026-07:00</updated><title type='text'>Menyiasati Peluang Diterbitkan (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Setiap                penulis memiliki harapan, tulisan yang dikirimkannya dapat dimuat.                Hal itu merupakan suatu kewajaran. Namun dalalam kenyataan, tidak                jarang tulisan yang dikirim itu tidak dimuat atau dikembalikan.                Banyak kemungkinan alasan mengapa suatu tulisan yang dikirim tidak                dimuat. Diantara kemungkinan itu bisa jadi karena beberapa sebab.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1. Tulisan tidak memenuhi kriteria penulisan;&lt;br /&gt;              2. Tulisan sejenis, jumlahnya banyak, sehingga perlu bersaing dengan                tulisan yang lebih baik;&lt;br /&gt;              3. Tidak aktual;&lt;br /&gt;              4. Tidak sesuai dengan visi-misi media.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Oleh karena itu, setiap media biasa mengadakan seleksi terhadap                sejumlah tulisan yang masuk. Untuk membangun seleksi yang objektif,                redaksi media cetak umumnya memiliki kriteria tentang tulisan yang                layak&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;muat.                Kriteria umum tersebut penting untuk disikapi oleh setiap penulis                dakwah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span align="justify"   style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;1.                Memenuhi Kriteria Tulisan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Ada beberapa kriteria umum tulisan yang biasanya diterapkan diberbagai                media cetak. Kriteria itu sebagai seleksi awal bagi layak tidaknya                suatu pemuatan tulisan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              a. Kriteria umum&lt;br /&gt;              1) tulisan asli, bukan jiplakan/ saduran/ terjemahan, belum pernah                dimuat dalam penerbitan lain, dan hanya ditulis/ dikirim khusus                untuk penerbit itu.&lt;br /&gt;              2) mengandung unsur baru, baik data konkret, pandangan baru, saran-saran,                dan atau opini.&lt;br /&gt;              3) Gagasan tulisan menyangkut kepentingan sebagain besar pembaca                media.&lt;br /&gt;              4) Memiliki kelengkapan dan kedalaman fakta, yang diperlukan, ntuk                mendukung ide pokok.&lt;br /&gt;              5) Memiliki akurasi fakta yang diperlukan.&lt;br /&gt;              6) Tidak memiliki, bagian pargraf, kalimat, atau kata, yang memungkinkan                diperkarakan.&lt;br /&gt;              7) Memenuhi aspek-aspek yang menyangkut etika Jurnalistik dan tidak                bernuansa “SARA”.&lt;br /&gt;              8) Berakibat baik bagi pendidikan publik.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              b. Kriteria Teknis.&lt;br /&gt;              1) Struktur tulisan uraiannya telah terorganisir dengan baik.&lt;br /&gt;              2) Lead telah berfungsi secara akurat dalam membangkitkan orang                untuk membaca.&lt;br /&gt;              3) Bahasa yang dipakai telah sesuai dengan kaidah pemakaian bahasa                jurnalistik, terutama hematdan jelas.&lt;br /&gt;              4) Penembpatan dan formulasi topic sentence dalam suatu paragraf                telah tepat.&lt;br /&gt;              5) “Jembatan” atau “kata penghubung” telah                sesuai.&lt;br /&gt;              6) Tidak ada kata yang menimbulkan misleading.&lt;br /&gt;              7) Penggunaan EYD sudah tepat.&lt;br /&gt;              8) Penembatan, sesuatu yang detail dan yang tidak perlu detail diposisikan                secara tepat.&lt;br /&gt;              9) Penempata fakta yang benar.&lt;br /&gt;              10) Penempata anak judul yang pas (jika diperlukan).&lt;br /&gt;              11) Cara penyajian tulisan opini tidak berkepanjangan tapi padat,                singkat, mudah ditangkap, gaya enak dibaca. Panjang artikel 0pini                maksimal 5,5 halaman kwarto, 5 halaman kwarto untuk resensi buku,                kolom 4- 5 halaman dan 8 halaman untuk cerpen, Semuanya ditulis                dengan ketikan 2 spasi, dengan tulisan yang jelas, rapi dan bersih,                tanpa coretan maupun tip-ex.&lt;br /&gt;              12) Kalimat penutup, telah tepat, dan memberi kesan pada pembaca.               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jika suatu tulisan telah memenuhi kriteria itu, maka ada harapan                untuk dimuat. Namun jika belum terpenuhi, sebaiknya kita menulis                ulang, untuk memperbaiki hal-hal yang masih janggal. Akan tetapi                masih ada lagi yang perlu diperhatikan yaitu bernilai aktual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;by                Aef Kusnawan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-2586473090393524048?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/2586473090393524048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2586473090393524048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2586473090393524048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menyiasati-peluang-diterbitkan-1.html' title='Menyiasati Peluang Diterbitkan (1)'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-929245008202399335</id><published>2009-10-13T17:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:46:16.761-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Seorang Editor Menilai Sebuah Naskah?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Editor                atau redaktur adalah pembaca pertama naskah yang dikirimkan kepadanya.                Ia membaca karya pengarang. Sebagai seorang pembaca, ia tidak hanya                sekedar membaca, tetapi juga menilai dan mempertimbangkan apakah                karangan ini pantas dan berguna bagi pembaca?&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Pada hakikatnya naskah yang masuk mempunyai dua ciri: (1) naskah                yang ditulis penulis amatir dan (2) naskah yang ditulis pengarang                profesional. Kebanyakan naskah yang diterima editor manapun di atas                bumi ini berasal dari penulis amatir ketimbang penulis profesional.                Kaum amatir mungkin saja berprofesi guru, penatar, dan sebagainya,                namun cara penulisannya masih "mentah" atau meniru-niru                gaya penulis lain sehingga tidak orisinil. Editor yang terlatih                sangat tangkas, mengenali tulisan semacam ini. Bahkan ada editor                yang mengatakan bahwa ia menerima naskah dari kelompok amatir (90%)                dan dari kelompok profesional (10%)&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Penulis amatir umumnya miskin argumentasi dan kurang memperhatikan                sistematika penulisan (apakah untuk mass media ataukah untuk bidang                sendiri). Sulitnya, justru yang 10% itulah yang menjadi tumpuan                harapan editor untuk memperoleh karangan yang baik dan memenuhi                syarat dari segi isi dan bentuk.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;               &lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;              Penerbit surat kabar atau majalah mempunyai cara sendiri untuk memproses                naskah yang diterimanya. Setiap penerbit mempunyai "house-style"                yang berlaku di penerbitnya. Naskah yang masuk ke sekretariat diteruskan                kepada "pembaca" pertama dan kemudian diserahkan kepada                editor yang bertanggung jawab pemuatannya (setelah diseleksi). Pengarang                yang profesional berharap sesuatu dari karangannya, begitu juga                editor yang profesional berharap sesuatu dari karangan yang diterbitkannya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Nah, jelasnya, mengapa sebuah karangan dikembalikan?&lt;br /&gt;              a. Karangan tersebut tidak cocok dengan misi media bersangkutan                atau terlalu bersifat menggurui.&lt;br /&gt;              b. Karangan tersebut mirip-mirip dengan karangan yang telah pernah                dimuat.&lt;br /&gt;              c. Terlalu panjang untuk topik tertentu atau mungkin juga terlalu                pendek.&lt;br /&gt;              d. Kalau menyangkut karangan kreatif, mungkin tulisan tersebut terlalu                lemah dari segi karakter (tokoh), plot maupun atmosfer pada bagian-bagian                tertentu karangan tersebut.&lt;br /&gt;              e. Terlalu sarat dengan teori yang mungkin melelahkan pembaca atau                berbau propaganda yang tidak disenangi pembaca.&lt;br /&gt;              f. Tulisannya tidak rapi atau sukar dibaca.&lt;br /&gt;              Alangkah bijaksananya jika penulis belajar dari kesalahan itu dan                berusaha untuk berbuat yang lebih baik lagi. Untuk itu jika naskah                dikembalikan, maka ada beberapa hal yang harus Anda lakukan:&lt;br /&gt;              a. Arsipkan naskah itu (jangan dibuang).&lt;br /&gt;              b. Konsultasikan dengan penulis profesional tentang letak kekurangannya.&lt;br /&gt;              c. Perbaiki dan ketik lagi, kirim ke media lain.&lt;br /&gt;              Media yang telah bonafide, kadang menyertakan keterangan singkat                tentang penyebab artikel Anda dikembalikan. Untuk itu Anda tinggal                memperbaikinya dan mengirim ke media lain yang visinya sesuai untuk                artikel itu. Namun keterangan singkat itu kadang membingungkan karena                formatnya telah jadi dan redaksi kadang dengan seenaknya menilai                artikel kita dengan format itu. Hal itu terjadi karena begitu banyak                artikel yang dikirim penulis dan redaksi tidak ada waktu banyak                untuk membaca seluruhnya, hanya artikel yang berkualitas yang akan                diambil redaksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Menyikapi                Artikel yang Tidak Dikembalikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Semua penulis berharap artikelnya diterbitkan atau paling tidak                dikembalikan jika tidak diterbitkan. Kenyataannya, jangankan diterbitkan,                dikembalikan pun tidak. Mengantisipasi hal tersebut, penulis sebaiknya                mengarsipkan dalam komputernya atau artikel itu difoto copy sebelum                dikirim. Jika tidak diterbitkan dan redaksi tidak mengembalikannya,                naskah Anda bisa diketik atau diprint lagi untuk dikirim ke media                lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Berapa lamakah memastikan artikel itu tidak akan diterbitkan? Hal                ini sangat variatif. Untuk surat kabar harian biasanya antara seminggu                hingga dua minggu dari semenjak dikirim; untuk tabloid (mingguan),                biasanya antara dua minggu hingga sebulan dari semenjak dikirim.                Untuk media cetak bulanan seperti majalah, biasanya antara dua hingga                empat bulan dari semenjak dikirim.Untuk itu jika dalam jangka waktu                tersebut artilel Anda tidak juga diterbitkan, maka naskah Anda boleh                diketik lagi atau diprint lagi dan kirim ke media cetak lain.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Jangka waktu yang kami sebutkan itu bukanlah hal baku, hal itu hanya                menurut rata-rata saja dari pengalaman kami. Kadang ada artikel                yang setelah satu tahun baru diterbitkan.&lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;              &lt;/p&gt;             &lt;p align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;             &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Abu Al-Ghifari&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-929245008202399335?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/929245008202399335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/bagaimana-seorang-editor-menilai-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/929245008202399335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/929245008202399335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/bagaimana-seorang-editor-menilai-sebuah.html' title='Bagaimana Seorang Editor Menilai Sebuah Naskah?'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-986718319776677755</id><published>2009-10-13T17:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:45:20.256-07:00</updated><title type='text'>Jika Naskah Ditolak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kembali                kita kuatkan keyakinan naskah ditolak bukanlah akhir segalanya.                Yang demikian itu hanyalah proses rute yang harus dilalui sebelum                berhasil adalah kenyataan wajib yang mesti dialami. Lantas apa saja                langkah-langkahnya?&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; dokumentasikan naskah-naskah itu, jangan                sampai dibuang. Belum tentu ide yang terkandung dalam tulisan tersebut                bisa ketemu di lain waktu. Percayalah ide itu amat mahal. Untuk                mendapatkan ide terkadang para penulis membayar mahal karena harus                pergi ke tempat tertentu. Dari sudut falsafah, ide bagus tidak bisa                dibandingkan dengan rupiah.&lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt;                memperbaiki naskah. Sering kali kita menganggap saat merampungkan                naskah, terasa sudah sempurna. Tidak terdapat kekurangan. Seolah-olah                berani diuji dengan rekan lainnya. Namun selang beberapa waktu (bisa                jadi hitungan tahun) kok lucu, di sana-sini nggak nyambung. Saat                tahu kondisi tersebut, inilah kesempatan untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;               Ketiga,&lt;/strong&gt; bandingkan dengan tulisan-tulisan lain yang dimuat.                Selera redaktur sangat menentukan. Dengan segala keobyektifan dan                kesubyektifan menjadi kata kunci. Karenanya, mempelajari tulisan                yang dimuat itu penting. Koran, tabloid atau majalah masing-masing                punya karakter tersendiri. Bila tulisan yang kita kirim sama “nafasnya”,                besar peluang untuk diterima.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Keempat, &lt;/strong&gt;melengkapi sumber tulisan. Menambah banyak                warna pasti makin meriah. Sangatlah penting untuk membaca, mencatat,                atau memiliki ensiklopedi, info terkini, dan bahan-bahan (buku)                rujukan yang biasanya dijadikan sumber utama (standar).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Simak tulisan Jalaluddin Rakhmat. Kiai yang pakar komunikasi itu                jika membuat tulisan kaya dengan berbagai tinjauan. Misal, ia menulis                tentang “istiqomah”, tapi tidak sebatas menggunakan                dalil naqli (Al-Qur’an, As-Sunnah) saja. Beliau mengurai dengan                pendekatan sejarah, psikologi, logika, budaya dan data-data teranyar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Sangatlah penting untuk membaca, mencatat atau memiliki ensiklopedia,                internet, media massa terbitan baru, info terkini dan bahan-bahan                (buku) rujukan yang biasa dijadikan sumber utama (standar).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Kelima,&lt;/strong&gt; membebaskan tulisan dari teori baku. Memang                penulis pemula sangat meniru gaya idola penulis pujaanya. Kata Aristoteles,                meniru adalah awal dari sebuah seni.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Pada urutan kelima ini bukan berarti meniadakan teori-teori yang                sudah ada. Teori menulis yang sudah dipelajari tetap kita pertahankan.                Cuma jangan terpaku. Masih ada teori atau gaya lain. di luar negeri                terdapat teori bernama teori lingkaran. Belakangan antara lain dikenalkan                oleh DR. Dedi Supriadi. Untuk menuju ke titik tengah lingkaran,                kita boleh memasukinya dari garis mana saja. Sederhananya, banyak                cara untuk menulis. Keterkaitan dengan unsur emosi ini bisa membuat                tulisan lebih segar dan renyah. Contoh, biasanya dari umum ke khusus,                kita dapat memulai dari khusus ke umum.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Keenam, &lt;/strong&gt;rutin menulis lagi. Sudah menjadi alasan                klasik untuk menyembunyikan diri dari ketidakberdayaan dalam olah                tulis menulis. “Waktu saya tersita, besoklah saya akan memulai”,                betapa sering kita mendengar kata-kata itu. Padahal mulanya menggebu-gebu                sesemangat 45.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Para penulis sukses di tengah kesibukannya menyediakan waktu khusus                unutk menulis. Ada yang sehari menulis 3 – 4 jam sehari.Yus                R. Ismail mengagumi rekannya seorang cerpenis belia aktivis Forum                Lingkar Pena (FLP). Ia menulis setiap dini hari usai shalat malam                sampai menjelang waktu shubuh. Hasilnya menakjubkan, kawan kita                ini (masih SMU) sudah menulis empat buku.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;Ketujuh,&lt;/strong&gt; adakah silaturahmi dengan para penulis                yang jadi atau milih profesi menulis sebagai pilihan mencari nafkah.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Langkah ini sangat membantu. Banyak yang menyangka orang tenar sulit                dihubungi. Benar, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Pasti                ada dan menerima kesempatan unuk kita. Kita mendapatkan berbagai                pengalaman dan ilmu yang menguatkan “ruh” semangat kepenulisan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Saya pernah mengunjungi tempat aktivitas dan bertemu dengan sosok                penulis bergengsi negeri ini, antara lain: Emha Ainun Nadjib, Nurcholis                Madjid, Gola Gong, Amin Rais, Kuntowijoyo dan sejumlah penullis                kawakan yang berdomisili di Bandung. Alhamdullillah, dari beliau-beliau                saya memperoleh tambahan tenaga berlipat-lipat. Meski ratusan naskah                saya ditolak, saya bersyukur semangat dan kreativitas tulis menulis                masih terpelihara. Lumayan, sudah belasan media yang mempublikasikan.                Dan teramat yakin bilangan angka terus menanjak.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Tidak ada alasan untuk berhenti menulis. Cuma karena belum dimuat.                Menulis kembali dan kembalilah menulis. Penolakan naskah itu persyaratan                wajib bagi siapa saja yang ingin sukses menulis. Selamat menulis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Lilis Nihwan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-986718319776677755?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/986718319776677755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/jika-naskah-ditolak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/986718319776677755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/986718319776677755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/jika-naskah-ditolak.html' title='Jika Naskah Ditolak'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-267734226277239296</id><published>2009-10-13T17:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:44:10.535-07:00</updated><title type='text'>Strategi Mengirim Naskah Buku Ke Penerbit</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Apa                yang dilakukan setelah naskah rampung dibuat? tentu saja mengirimkannya                ke penerbit buku. Apalah artinya naskah bagus jika hanya untuk koleksi                pribadi.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dalam pengiriman naskah, hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai                berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;              &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;a. Menentukan                penerbit yang tepat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;              Setelah naskah itu sempurna, berikutnya dikirim ke penerbit. Dalam                hal ini jangan salah mengirim naskah. Naskah Anda harus dikirim                ke penerbit yang sesuai dengan jenis buku Anda. Penerbit buku ada                beberapa kategori, yaitu penerbit buku anak-anak, buku pelajaran                (SD, SLTP dan SMU), buku perguruan tinggi, buku agama, dan penerbit                buku umum. Memastikan kategori sebuah penerbitan, dapat Anda lihat                dari katalog bukunya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;b. Menyertakan kelengkapan pengajuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Setelah menentukan penerbit yang cocok untuk buku Anda, langkah                berikutnya mengirimkan naskah ke penerbit tersebut. Namun sebelum                naskah itu dikirim, lengkapi dulu dengan berbagai kelengkapan berikut                ini:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1) surat pengantar&lt;br /&gt;              Penyertaan surat pengantar penting, terutama yang baru pertama kali                mengajukan naskah ke penerbit itu. Surat pengantar adalah etika                yang harus disertakan yang berfungsi sebagai prolog kerjasama antara                penerbit dan penulis. Format surat pengantar ini terserah penulis,                yang penting berisi pengajuan naskah.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              2) menyertakan identitas diri&lt;br /&gt;              Identitas yang dimaksud menyangkut latar belakang pendidikan, pekerjaan,                pengalaman menulis, karya-karya yang pernah diterbitkan (jika ada),                termasuk ide penulisan buku yang diajukan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              3) sinopsis naskah&lt;br /&gt;              Editor sebuah penerbitan biasanya tidak langsung membaca naskah                buku Anda, sekalipun Anda penulis ternama. Biasanya diperhatikan                dulu sinopsis atau ringkasan dari buku yang Anda tulis. Untuk itu                jangan lupa menyertakan sonopsis ini.&lt;br /&gt;              c. Pengiriman Naskah&lt;br /&gt;              Naskah yang sudah siap termasuk sudah dilengkapi kelengkapan di                atas, segera kirimkan ke penerbit yang Anda maksud. Pengiriman naskah                dapat diantar langsung atau via pos/kurir.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;             &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Abu Al-Ghifari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-267734226277239296?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/267734226277239296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/strategi-mengirim-naskah-buku-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/267734226277239296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/267734226277239296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/strategi-mengirim-naskah-buku-ke.html' title='Strategi Mengirim Naskah Buku Ke Penerbit'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-5507344818874181398</id><published>2009-10-13T17:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:33:43.607-07:00</updated><title type='text'>Etika Menulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di                dunia ini hampir tidak ada suatu pekerjaan pun yang dilakukan tanpa                etika. Profesi dokter punya etika, guru, sopir, karyawan pabrik,                masinis, dan masih banyak lagi, semuanya ada aturan main baik secara                tertulis maupun tidak.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Keberadaan suatu etika pada umumnya didasarkan pada itikad baik                untuk kebaikan bersama. Dengan adanya itikad baik itu diharapkan                masyarakat dapat menggunakan etika tersebut sebagai acuan dalam                setiap perbuatan yang dilakukan berkaitan dengan pekerjaan dan profesinya                itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;               &lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;span style="color:#000000;"&gt;Mentaati etika dari sebuah profesi, dapat                diartikan sebagai sebuah usaha untuk menghargai dan loyal terhadap                profesi yang ditekuni seseorang. Sebab jika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                &lt;span style="color:#000000;"&gt;seseorang melanggar etika profesi yang telah                menjadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;               kesepakatan bersama, ia dianggap menyimpang dan tidak loyal lagi                pada profesinya. Hal tersebut berakibat kurang dihargainya kredibilitas                seseorang yang melanggar etika itu.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Profesi sebagai penulis juga mempunyai etika. Akan tetapi etika                profesi penulis ini belum baku sebagaimana etika profesi yang telah                mapan lainnya. Seperti etika profesi dokter, etika profesi wartawan,                etika profesi guru dan sebagainya. Belum mapannya etika profesi                penulis ini disebabkan masih merupakan profesi baru dan belum berkembang                sebagaimana profesi lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Aturan main adalah dunia kepenulisan ini secara garis besar dapat                disebutkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1. Materi dan gagasan penulisan hendaknya tidak bertentangan dengan                Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila dan peraturan yang berlaku lainnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              2. Isi tulisan tidak menyinggung kebersamaan dalam kerukunan sesama                warga negara dan warga masyarakat secara keseluruhan, seperti misalnya                masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              3. Seorang penulis hendaknya bersikap jujur dalam segala hal yang                berkaitan dengan materi kepenulisannya. Misalnya berkaitan dengan                penyebutan identitas diri, penyebutan pekerjaan, penyebutan alamat                tempat tinggal, status jabatan dan sebagainya. Ketidakjujuran seorang                penulis akan merugikan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              4. Mengirim tulisan dengan ketikan rapi, tanpa banyak coretan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              5. Menggunakan bahasa yang baik dan benar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              6. Tidak melanggar hak cipta orang lain. Seperti menjiplak, mengutip                tanpa disebutkan sumbernya, dan hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              7. Tidak mengirim tulisan yang sama kepada media yang lain. Kecuali                telah mempunyai kesepakatan dengan pihak yang terkait. Perlu diketahui                bahwa sebenarnya hal ini belum diundangkan secara baku, tetapi masih                merupakan konvensi atau aturan tak tertulis di masing-masing media.                Konsekuensi jika penulis ketahuan menulis dengan tulisan yang sama                di media berbeda, biasanya ia akan dikenakan sanksi yang biasa disebut                black list atau daftar hitam. Artinya jika seseorang telah terkena                daftar hitam ini pada media tertentu, maka tulisan-tulisannya tidak                akan dimuat pada media tersebut dalam jangka waktu tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;              &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Abu Al-Ghifari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-5507344818874181398?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/5507344818874181398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/etika-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/5507344818874181398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/5507344818874181398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/etika-menulis.html' title='Etika Menulis'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-2965399565769529296</id><published>2009-10-13T17:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:17:34.144-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Penulis Buku Produktif</title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellspacing="0" width="94%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td rowspan="2" bg valign="top" width="53%" style="color:#ffffff;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Wujud sebuah buku adalah hasil kerja maksimal berbagai unsur sebagaimana                disebutkan di atas Mengingat banyak kepentingan di dalamnya, maka                menulis buku bukan sekedar menumpahkan ide-ide agar bisa dicetak                dalam bentuk buku. Seorang penulis buku harus mampu menyelami pertanyaan                di atas. Jika tidak, semangatnya tidak akan membuahkan hasil dalam                arti buku itu diterbitkan. Untuk itu, mengacu pada pertanyaan di                atas, maka seorang penulis buku harus memenuhi persayaratatan sebagai                berikut:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;1. Sebelumnya Berpengalaman Menulis Artikel (fiksi atau                non fiksi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Berpengalaman menulis? Ya. Menurut saya ini syarat utama. Menulis                tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menulis perlu latihan                bertahun-tahun dan diuji oleh surat kabar atau majalah yang menerbitkannya.                Tapi ada juga yang penulis buku tapi sebelumnya tidak pernah menulis                artikel? Ya ada. Tapi bobot bukunya baik dari segi “ruh buku”,                idealisme maupun bisnis tidak begitu melambung.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;              &lt;!-- Kode Iklan PPC Indonesia --&gt;             &lt;div align="left"&gt;                &lt;script src="http://www.ppcindo.com/ppc/index.php?section=serve&amp;amp;id=93&amp;amp;affid=1926&amp;amp;output=js"&gt;&lt;/script&gt;             &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Penulis besar seperti Qurais Syihab, Toto Tasmara, Kartini Kartono,                Muh. Fauzil Adhim, dll (dalam jenis non fiksi) atau Helfi Tiana                Rosa, Izzatul Jannah, Asma Nadia, Mira W, dll (dalam jenis fiksi),                mereka semua adalah penulis-penulis buku best seller yang sebelumnya                adalah penulis artikel mumpuni yang artikelnya kerap menghiasi berbagai                media cetak.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Kepekaan seorang penulis artikel sudah teruji bertahun-tahun. Ketika                berkecimpung dalam penulisan buku, sudah memiliki bekal yang cukup                memadai. Dia akan mampu melihat dengan kaca mata bathinnya apa yang                tengah terjadi di masyarakat. Kemudian menggali dengan cermat, apa                sesungguhnya yang diinginkan masyarakat itu. Ibarat seorang pemanah                ulung, ia akan menumpahkan segala kemampuannya (yang telah teruji                itu) untuk membidik sasarannya. Hasilnya, buku-buku buah “tinta                emasnya” laku bak kacang goreng (best seller).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Seorang penulis artikel, secara otomatis (biasanya) telah memahami                kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka ketika menulis                buku, hal itu tidak aneh lagi. Ia akan mampu menyusun kata, kalimat                dan paragraf yang enak dibaca dengan tanda baca yang sesuai tempatnya.                Tulisannya mudah dicerna, mengalir laksana air pegunungan yang mengalir                deras, sejuk dan menyegarkan. Pada gilirannya, pembaca merasa senang                membaca keseluruhan buku itu, banyak hikmah yang dapat dipetik dan                tidak merasa dirugikan sekalipun harga buku itu cukup mahal untuk                ukuran “saku”nya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Seorang penulis artikel, biasanya juga seorang yang berwawasan luas                (terutama pada bidang yang dispesialkannya). Mereka sudah terbiasa                membaca buku, surat kabar, majalah, dll. Sebagai rujukan untuk memperkuat                artikelnya. Maka ketika menulis topik tertentu untuk bukunya, mereka                tidak akan kesulitan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Seorang penulis artikel, biasanya juga pekerja keras yang tak kenal                lelah. Mereka sudah terbiasa memeras otak dan duduk seharian di                depan komputer/mesin tik. Ibarat seorang pelari, ia sudah terbiasa                dengan panas dan hujan, jalan berliku dan lurus, atau jalan menanjak                dan menurun. Mereka sudah mengenal medan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;2 . Memahami Struktur Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Struktur atau anatomi buku jelas sangat beda dengan artikel. Buku                memiliki anatomi yang tersusun secara rinci. Sekalipun pada masing-masing                penerbit berbeda dalam memahami anatomi buku ini, namun praktenya                memiliki banyak kesamaan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Memahami anatomi buku sangat penting, seorang penulis dengan sendirinya                tidak mempersulit diri sendiri dan penerbit. Penulisan buku yang                semau gue, tidak lengkap sesuai anatomi yang umum, sekalipun diterima                oleh penerbit, nantinya akan dikembalikan untuk dilengkapi.&lt;br /&gt;              Secara garis besar anatomi buku terbagi dalam tiga besar; pendahulu,                isi naskah, dan penutup (end matter). Tiga besar tersebut rinciannya                sebagai berikut:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              a. Pendahulu (Preliminary pages/front mater)&lt;br /&gt;              Pendahulu (bukan pendahuluan) adalah halaman yang mendahului halaman                isi. Halaman ini hanya menginformasikan keberadaan isi buku yang                akan Anda baca. Sebagian penerbit memberikan nomor dan jenis angka                tersendiri pada halaman pendahulu ini (tidak satu rangkaian dengan                halaman naskah dan umumnya menggunakan angka romawi). Namun banyak                juga penerbit yang tidak membedakan hal tersebut.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Halaman pendahulu terdiri dari:&lt;br /&gt;              1) halaman pancir (lembar pertama setelah cover)&lt;br /&gt;              2) halaman judul (lembar kedua)&lt;br /&gt;              3) balik halaman judul (halaman copy right)&lt;br /&gt;              4) daftar isi&lt;br /&gt;              5) daftar pedanan kata (transilasi)&lt;br /&gt;              6) halaman persembahan&lt;br /&gt;              7) ucapan terima kasih&lt;br /&gt;              8) pengantar&lt;br /&gt;              9) Sambutan&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Tidak semua penerbit menggunakan secara lengkap poin-poin tersebut                terutama halaman persembahan, pedanan kata, ucapan terima kasih,                dan sambutan semuanya disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              b. Isi Naskah Buku&lt;br /&gt;              Setelah pendahulu halaman, selanjutnya isi naskah atau menurut Sofia                Mansoor “daging buku”. Isi naskah buku berisi pembahasan                lengkap sebagai penjabaran dari judul. Isi naskah terbagi dalam                beberapa bab, sub bab dan pasal yang dimaksudkan untuk memisahkan                antara satu sub bahasan dengan sub bahasan yang lainnya. Di samping                itu untuk mempermudah pembaca memahami isi naskah. Adakalanya bab-bab                itu tidak ditulis, cukup menuliskan nomornya saja.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              c. Penutup (end matter)&lt;br /&gt;              Penutup, end matter, atau back matter adalah halaman akhir setelah                halaman naskah. Halaman penutup ini umumnya terdiri dari:&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              1) lampiran&lt;br /&gt;              2( daftar pustaka&lt;br /&gt;              3) indeks&lt;br /&gt;              4) riwayat hidup penulis&lt;br /&gt;              Struktur buku di atas harus dipahami penulis. Buku yang dikirim                dalam kondisi lengkap, sangat memudahkan penerbit dalam mengolahnya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;3. Menguasai Masalah yang Ditulis dan Memiliki Sumber Rujukan                Lengkap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Sebagaimana penulisan artikel, maka penulisan buku pun sama harus                memahami topik yang dibahas. Jangan pernah sekali-kali menulis tentang                politik umpamanya jika tidak memiliki latar belakang dan pengalaman                dalam bidang politik. Atau menulis tentang pertanian sementara latar                belakang penulis dalam bidang peternakan, tentu akan sangat memusingkan                diri sendiri. Sebagaimana dibahas pada Bab I, hendaknya penulis                fokus pada spesialisasi ilmu yang dimiliki.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Berbicara buku-buku rujukan, jenis buku non fiksi jelas memerlukan                rujukan buku-buku yang memiliki kemiripan bahasan, atau setidaknya                ada keterkaitan dengan naskah yang tengah ditulis. Dimaksudkan agar                tulisan padat dan lengkap. Kredibilitas buku itu sendiri nantinya                diakui sebagai buku yang berkualitas karena menyertakan pendapat                dari penulis lainnya. Semakin banyak rujukan yang dipakai biasanya                semakin besar pula kepercayaan pembaca.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Walau demikian, orisinalitas dan gaya tulisan harus tetap terjaga.                Seorang penulis tidak boleh hanya mengandalkan rujukan atau meniru                gaya penulisan orang lain apalagi jika nyata-nyata menjiplak. Rujukan                hanya sekedar perbandingan untuk menambah perbendaharaan pendapat.                Pada gilirannya, penulis harus memiliki sikap tersendiri.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;4. Memahami EYD &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Sekalipun sudah terbiasa menulis artikel dan sudah memahami bahasa                Indonesia dengan baik, namun penulis buku harus memahaminya lebih                dalam terutama korelasi antar paragraf, efektivitas kata, dan kalimat.                Kata dan kalimat yang tidak efektif sehingga memberikan kesan bertele-tele,                hendaknya dibuang. Begitu pula tanda baca yang kurang pada tempatnya                agar diperbaiki. Sehingga buku tersebut mengalir, enak dibaca, tidak                kaku dan menjemukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                Selain itu, seorang penulis harus mampu memilih kata (diksi) yang                tepat untuk tulisannya terutama untuk judul, sub judul atau pasal.                Pilihlah kata atau kalimat untuk judul bab, sub bab dan pasal yang                dapat merangsang pikiran atau menarik perhatian pembaca.&lt;br /&gt;              &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;              5. Memiliki Kepekaan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Tidak semua penulis memiliki kepekaan pemikiran. Dalam menjabarkan                suatu ide, banyak penulis yang hanya mengekor tanpa memiliki orisinalitas                ide. Seorang penulis yang peka, dapat melihat dengan mata bathinnya                sesuatu yang layak dituangkan dalam buku. Terkadang topik yang dituangkan                dalam buku itu sangat sederhana, namun begitu mengena di hati pembaca.                Tidak semua buku best seller itu buku yang berat, justru buku-buku                yang ringan, yang akrab dalam keseharian pembaca, kerap menjadi                buku yang laku keras.&lt;br /&gt;              Jadi jangan pernah asal-asalan dalam menulis. Efektivkan pikiran,                tenaga dan waktu Anda untuk pembahasan ide yang benar-benar tepat                sasaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;                &lt;strong&gt;6. Bermental Pejuang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;              Penulis buku yang cengeng, sering keluh kesah, dan kurang bersemangat,                sangat sulit bisa menjadi penulis yang sukses. Baru sekali bukunya                ditolak oleh penerbit, lantas frustasi. Padahal seorang penulis                ternama di Barat, pernah naskahnya ditolak oleh 600 penerbit. Setelah                diterbitkan oleh penerbit ke 600 itu, bukunya ternyata best seller.                Jika ia frustasi ketika ditolak oleh penerbit ke 500 umpamanya,                kini ia takkan menikmati hasil tulisannya. Anda pernah ditolak oleh                berapa penerbit? Beberapa naskah saya sendiri pernah ditolak oleh                hampir seluruh penerbit di Bandung, ketika naskah itu diterbitkan,                ternyata best seller.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Seorang penulis harus penuh optimisme, selalu bersemangat dan siap                menghadapi halangan dan rintangan dalam menulis buku. Kedepankan                profesionalisme dan kemahiran menulis dari pada sesuatu yang sifatnya                materi. Dahulukan kerja keras, hasil belakangan. Berprestasi dulu,                baru memetik hasil. Teruslah berlatih, jangan mudah putus asa karena                putus asa adalah racun bagi kesuksesan dan kesuksesan akan datang                hanya pada mereka yang berusaha mendapatkannya bukan pada mereka                yang hanya mengharapkannya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-2965399565769529296?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/2965399565769529296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menjadi-penulis-buku-produktif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2965399565769529296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/2965399565769529296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/menjadi-penulis-buku-produktif.html' title='Menjadi Penulis Buku Produktif'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8739621211538219212.post-3958673292545906054</id><published>2009-10-13T17:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T17:15:55.540-07:00</updated><title type='text'>Buku Laris Rezeki Manis</title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellspacing="0" width="94%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td rowspan="2" bg valign="top" width="53%" style="color:#ffffff;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;                Kunci dari meraup penghasilan dengan menulis buku adalah pada semakin                larisnya buku yang kita tulis. Atau dalam bahasa yang lain “buku                kian laris, rezeki kian manis” atau “kian laris buku,                kian tebal saku”. Artinya, semakin terjual banyak (laris)                buku yang kita tulis, maka rezeki (penghasilan) yang akan kita dapatkan                juga akan semakin tebal atau banyak.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Lalu, bagaimana sebuah penerbit menghargai karya seorang penulis                ? Umumnya, penerbit menggunakan sistem royalty dalam menghargai                karya seorang penulis buku. Besar royalty itu bervariasi atau berbeda                antara penerbit satu dengan penerbit yang lainnya. Masing-masing                penerbit memiliki policy atau kebijakan masing-masing. Namun, umumnya,                besar royalty itu 10 % dari harga jual eceran (bruto) per bukunya.                Atau ada pula yang mematok 15 %, tapi dihitung dari harga bersih                (netto) per bukunya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#000000;"&gt;               &lt;br /&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;              &lt;!-- Kode Iklan PPC Indonesia --&gt;             &lt;div align="left"&gt;                &lt;script src="http://www.ppcindo.com/ppc/index.php?section=serve&amp;amp;id=93&amp;amp;affid=1926&amp;amp;output=js"&gt;&lt;/script&gt;             &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                             &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;               &lt;br /&gt;              Kunci dari meraup penghasilan dengan menulis buku adalah pada semakin                larisnya buku yang kita tulis. Atau dalam bahasa yang lain “buku                kian laris, rezeki kian manis” atau “kian laris buku,                kian tebal saku”. Artinya, semakin terjual banyak (laris)                buku yang kita tulis, maka rezeki (penghasilan) yang akan kita dapatkan                juga akan semakin tebal atau banyak.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Lalu, bagaimana sebuah penerbit menghargai karya seorang penulis                ? Umumnya, penerbit menggunakan sistem royalty dalam menghargai                karya seorang penulis buku. Besar royalty itu bervariasi atau berbeda                antara penerbit satu dengan penerbit yang lainnya. Masing-masing                penerbit memiliki policy atau kebijakan masing-masing. Namun, umumnya,                besar royalty itu 10 % dari harga jual eceran (bruto) per bukunya.                Atau ada pula yang mematok 15 %, tapi dihitung dari harga bersih                (netto) per bukunya.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Selain memakai sistem royalty, beberapa penerbit juga ada yang menerapkan                sistem jual putus (flat). Besar angka yang dipatok untuk sitem jual                putus ini umumnya berkisar Rp 7.000,- sampai Rp 10.000,- per halaman.                Namun, amat jarang sistem ini digunakan oleh penerbit. Masalahnya,                jika buku itu meledak (laris) di pasaran, maka sang penulis buku                itu tidak dapat menikmati kesuksesan itu. Sistem ini memang cenderung                tidak adil, sehingga jarang digunakan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Dari gambaran singkat sistem “penghargaan” terhadap                sebuah karya buku di atas, maka kita akan menjadi tahu peluang meraih                penghasilan yang dapat kita tangkap dari kerja menulis buku.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Taruhlah sekedar contoh, kita menulis buku dengan jumlah halaman                50 lembar. Dengan sistem beli putus, kita akan mendapatkan paling                tidak uang senilai Rp 375.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima ribu                rupiah). Itu bila per halaman tulisan kita dihargai Rp 7.500,-.                Tapi bila per halaman tulisan kita dihargai Rp 10.000,-, kita paling                tidak akan bisa mengontangi uang lebih besar lagi, yakni Rp 500.000,-                (lima ratus ribu rupiah). Padahal, bila kita biasa menulis, tulisan                sejumlah 50 halaman dapat kita selesaikan dalam jangka waktu 5-7                hari (1 minggu) atau paling lama 1 bulan dengan tanpa meninggalkan                pekerjaan utama kita, misalnya menjadi guru atau dosen.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;              Bila menggunakan sistem royalti akan semakin berpeluang untuk meraup                keuntungan lebih besar lagi. Bila setelah dicetak menjadi buku,                harga eceran per buku Rp 10.000 [sepuluh ribu rupiah], maka royalti                kita bila dihitung 10 persen, akan mendapat Rp 1.000 [seribu rupiah]                per eksemplar buku. Tinggal dikalikan dengan jumlah penjualan. Semakin                laris buku kita—apalagi kalau sampai dicetak ulang berkali-kali                karena saking larisnya—maka akan semakin besar jumlah uang                yang akan kita terima. Dan semakin produktif kita, dalam arti semakin                banyak buku yang kita tulis dan diterbitkan, akan semakin memiliki                peluang lebih besar lagi jumlah penghasilan yang akan kita peroleh.                Pada masa kini, peluang membuka pintu rezeki dengan menulis buku                memang bukan hal yang aneh atau mustahil. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;By                Badiatul Muchlisin Asti&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8739621211538219212-3958673292545906054?l=bukuinstan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukuinstan.blogspot.com/feeds/3958673292545906054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/buku-laris-rezeki-manis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/3958673292545906054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8739621211538219212/posts/default/3958673292545906054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukuinstan.blogspot.com/2009/10/buku-laris-rezeki-manis.html' title='Buku Laris Rezeki Manis'/><author><name>aa rayi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
